Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami salat subuh karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari الله SWT.
Sejak azan subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat menjadi gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumah beliau, namun yang lain mencegah sebab mereka yakin bahwa Rasulullah SAW akan hadir. Maka merekapun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Qur’an.
Tak lama kemudian Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat untuk membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jama’ah lalu beliau bersabda, “Tetaplah kalian pada shaf masing-masing”.
Rasulullah SAW lalu mengahadap ke arah jama’ah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Mata beliau yang indah dan tajam menatap jama’ah satu per satu. Para jama’ah tertunduk tidak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung.
Sejurus kemudian beliau bersabda, “Aku akan memberi tahu kalian apa yang menyebabkan aku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama الله SWT dalam Rupa yang sangat gemilang”.
Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “DIA berfirman, ‘”Wahai Muhammad”. Aku menjawab, ;’Labbaika Yaa Rabb”.
”Mengapa para malaikat berselisih ?”
“Hamba tidak tahu”.
Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya, “الله SWT bertanya sampai tiga kali, kulihat DIA meletakkan telapak TanganNYA di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin Jari-Jari NYA di dadaku. Segala sesuatu nampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu DIA berfirman lagi, “’Wahai Muhammad”’.
“Labbaika Yaa Rabb”.
“Tentang apa para malaikat berselisih ?”
“Tentang penebus-penebus dosa”.
“Apa penebus-penebus dosa itu ?”
“Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai”.
“Tentang apa mereka berselisih ?”
“Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tertidur nyenyak”.
“Mintalah !”
“Yaa الله sesungguhnya aku mohon kepadaMU taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin dan agar ENGKAU mengampuniku dan merahmatiku jika ENGKAU hendak menimpakan cobaan”.
Setelah itu RAsulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada الله SWT, “ALLAHUMMA INNY AS-ALUKA HUBBAKA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WA KULLA AMALIN YUQARRIBUNY ILAA HUBBIKA”. (Yaa الله aku mohon kepadaMU kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMU , serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepadaMU )
Kemudian dengan suara yang sangat pelan sementara mata beliau yang sangat mulia berkaca-kaca Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, “ini adalah pelajaran hakikat maka pelajarilah”.
Belajar membaca kehidupan sebagai upaya mengenali diri sendiri sebagai bekal untuk lebih mengenal-Nya
Sabtu, 08 Januari 2011
Seri Belajar Membaca Risalatul Qusyairiyah ( 1 )
M.A.L.U
Allah berfirman :
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya الله melihat segala perbuatannya (Al-‘Alaq 14)
Rasulullah SAW bersabda:
“Malu itu sebagian dari iman”.
Suatu hari RAsulullah SAW memberi pelajaran kepada para sahabat :
Malulah kalian pada الله dengan sebenar-benar malu”.
Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya kami telah merasa malu wahai Nabi Alloh. Kami bersyukur dapat berbuat demikian”.
Beliau bersabda, “Bukan demikian ! akan tetapi orang yang malu pada الله yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dihimpunnya, dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Barang siapa menghendaki kampung akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Barang siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada الله dengan sebenar-benar malu”.
Ibnu Atha’ mengatakan, “Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika segan dan malu telah hilang, maka tida ada kebaikan yang tersisa di dalamnya”.
Abu Utsman mengatakan, “Orang yang berbicara dengan suasana hati yang diliputi rasa malu, tetapi apa yang dibicarakannya tidak di dalam suasana rasa malu karena الله maka dia adalah orang yang menipu”.
Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan bahwa الله berfirman, “Hai Hamba-Ku sesungguhnya engkau tidak malu kepada-Ku padahal Aku telah menjadikan manusia lupa pada aib-aibmu, menjadikan bumi lupa pada dosa-dosamu, menghapus keteledoranmu dari kitab catatan induk dan tidak akan mendebat hasil hitungan (catatan amalmu) pada hari kiyamat”.
Allah memberi wahyu kepada Nabi Isa AS, “Nasihatilah dirimu, jika telah menasehati dirimu maka nasihatilah manusia. Jika tidak malulah kamu kepada-Ku untuk memberi nasihat kepada manusia”.
Malu karena perendahan sebagaimana Nabi Musa AS yang mengatakan, “Sesungguhnya saya butuh sedikit dunia yang membuat saya malu untuk meminta kepada-Mu wahai Tuhan”. الله pun menimpalinya, “Mintalah kepada-Ku hingga adonanmu tergarami dan kambingmu diberi makan”.
Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Ada lima tanda kesengsaraan yaitu hati yang keras, mata yang beku, sedikit malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan”. Dalam sebagian kitab disebutkan, “tidak ada seorang hambapun yang mencapai separuh hak-Ku. Dia berdoa kepada-Ku dan Saya malu menolaknya. Di bermaksiyat kepada-Ku tetapi tidak malu kepada-Ku”.
Yahya bin Muadz mengatakan, “Barang siapa malu kepada الله dalam keadaan ta’at, maka الله akan malu kepadanya ketika dia melakukan dosa”. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya malu mengharuskan pencarian”.. dikatakan pula, malu adalah pengerutan hati untuk pengagungan Tuhan. Dikatakan, jika seseorang duduk untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka dua malaikat memangggilnya seraya berkata, “Nasihatilah dirimu dengan apa-apa yang kamu nasihatkan kepada kawanmu. Jiak tidak, maka malulah kepada Tuhanmu Yang selalu melihatmu.
Al-Junaid ditanya tentang malu, lalu dijawab,” Memandang buruk dan kurang terhadap perbuatan baikmu. Diantara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu”
Muhammad Al Washiti berkata, “Tidak akan merasakan kelezatan malu seseorang yang merobek ketentuan hukum atau melanggar janji”.
Diambil dari Kitab "Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf"
oleh Imam al Qusyairy an Naisabury
Permata Cimahi, 9 January 2011
Jumat, 07 Januari 2011
Belajar Membaca Al Hikam ( 14 )
Pilihan-Nya Adalah Yang Terbaik
Janganlah engkau menuntut dari-Nya agar Dia mengeluarkanmu dari suatu keadaan dan menjadikanmu pada kondisi yang lain yang engkau inginkan, karena jika Dia menghendaki niscaya Dia akan menjadikanmu sesuai yang engkau inginkan tanpa harus mengeluarkanmu dari keadaanmu yang sekarang.
Sebagaimana seseorang berada dalam suatu keadaan atau kondisi yang tidak ia suka baik itu berhubungan dengan masalah dunia atau agama, maka tidak semestinya dia berkeinginan keluar dari keadaan tersebut atas inisiatif sendiri dan berpaling dari hukum waktu –nya, karena yang demikian ini sama saja ia menginginkan sesuatu yang tidak di wujudkan oleh Alloh SWT pada saat itu sebagaimana diterangkan pada bab terdahulu :
ما ترك من الجهل شيئا من اراد ان يحدث في الوقت غير ما اظهره الله فيه
Tidak terlepas dari sifat kebodohan, orang yang hendak mengadakan sesuatu pada waktu yang الله tidak mengadakannya pada saat itu
Maka yang mesti ia lakukan adalah tidak berpaling dari hukum waktu dan tidak mencari sesuatu dari Tuhannya agar Ia dikeluarkan dari keadaan tersebut, karena yang demikian ini termasuk memilih-milih sesuatu untuk keinginan dirinya bukan menyerahkan pilihan Tuhan untuk dirinya. Oleh karena itu yang terbaik adalah ber-adab- / tatakrama yang baik dihadapan-Nya dan memilih kehendak-Nya daripada kehendak diri sendiri. Apabila sudah demikian, maka akan tampak jelas kebenaran keadaan dirinya dan akan terlihat jelas kecintaan / mahabah nya kepada Alloh Ta’ala. Maka ia akan berbuat sebagaimana perbuatan kekasih, sementara ia tetap pada keadaan / ahwalnya tanpa harus keluar dari ahwal tersebut. Maka jadilah ia ketika itu sebagai orang yang selalu dalam kehendak Alloh bukan kehendak diri sendiri, dan pasti hal itu lebih baik daripada apa yang ia pilih untuk dirinya.
Di dalam kitab Tanwir dikisahkan, diantara mereka ada yang berkata :
“Aku pernah menginginkan jika aku dapat meninggalkan semua sebab-sebab rizki (tidak bekerja / bertajrid) sementara setiap hari aku bisa mendapatkan dua potong roti. Dan yang demikian ini aku maksudkan agar aku dapat santai dari kepayahan mencari rizki”.
Orang tersebut melanjutkan kisahnya :
“Maka suatu saat aku dimasukkan ke dalam penjara, dan di sana setiap hari aku mendapatkan dua potong roti sampai waktu yang cukup lama, hingga aku merasa sangat bosan. Maka aku memikirkan masa laluku yang menginginkan dua potong roti setiap hari, sehingga terbersit dalam hatiku sebuah suara, “Sesungguhnya engkau menginginkan dari-Ku dua potong roti setiap hari akan tetapi engkau tidak meminta kepada-Ku kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu Aku beri engkau apa yang engkau minta”. Maka aku mohon ampun dan kembali kepada Alloh dan tiba-tiba pintu penjara terketuk sehingga aku selamat dapat keluar dan kembali ke tempat tinggalku”.
Maka beretikalah wahai orang mukmin dan janganlah engkau meminta untuk dikeluarkan dari suatu keadaan atau dimasukkan dalam suatu keadaan yang lain, karena yang demikian ini termasuk su’ul adab bersama Alloh. Bersabarlah engkau dari pada keluar dari suatu keadaan atas inisiatif dirimu sendiri, mungkin akan engkau dapatkan apa yang engkau inginkan, akan tetapi tidak engkau dapatkan kedamaian di dalamnya.
Kamis, 06 Januari 2011
Belajar Membaca Al Hikam ( 16 )
Bagaimana mungkin Allah Terhijab Daari Kita
Bagaimana digambarkan bahwa sesuatu dapat menghalangi Dia / menjadi hijab bagi الله padahal Dia-lah Yang menampakkan segala sesuatu. (atas apa yang Ia sinarkan sehingga tampaklah seluruh alam yang semula tidak ada menjadi wujud)
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah Yang tampak dengan segala sesuatu. (Sehingga dari sesuatu yang wujud, orang-orang dapat mengambil dalil akan adanya لله), sebagaimana firman لله SWT,
"Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami pada setiap ufuk dan pada diri kamu sekalian."
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia tampak di dalam segala sesuatu. (karena sesungguhnya Dia bermanifestasi di dalam segala sesuatu dengan segala kebagusan sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya).
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia-lah yang tampak bagi segala sesuatu. (di dalam mengkondisikan segala sesuatu sehingga semua yang ada tunduk dan sujud kepada-Nya, bertasbih dengan me-Maha Sucikan-Nya, akan tetapi kita tidak faham dengan tasbih dan tahmid mereka).
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia telah ada sebelum adanya segala sesuatu. (sebagaimana aktualisasi nama-nya Yang Maha Azali dan Yang Maha Abadi)
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih tampak daripada segala sesuatu. (Karena Yang wujud sudah pasti lebih tampak daripada yang ‘adam / tidak wujud pada segala keadaan, vsebagaimana telah diterangkan bahwa segala sesuatu selain لله pada hakikatnya adalah ‘adam apabila disandingkan dengan wujud لله.
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia adalah Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu yang menyertai-Nya. (Karena segala sesuatu selain Dia adalah sudah pasti ‘adam / nihil.
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu. (dikarenakan kesenantiasaan Dia meliputi engkau dan dikarenakan adanya Dia yang mengatur diri engkau.
Bagaimana digambarkan bahwa Dia (لله) terhijab oleh sesuatu padahal kalau bukan karena Dia maka tidak akan terwujud segala sesuatu.
Alangkah ajaib, bagaimana Yang Wujud akan tampak di dalam sesuatu yang tidak ada (kosong). (karena العدم adalah gelap, dan الوجود adalah terang. Dan keduanya adalah berlawanan sehingga tidak mungkin terkumpul keduanya.
Bagaimana sesuatu yang baru (الحدث) akan eksis disandingkan dengan Dzat Yang memiliki sifat Dahulu. (karena sesuatu yang bathil tidak akan eksis apabila tampak Yang Haq sebagaimana firman لله SWT :
Katakanlah kepada mereka, telah datang kebenaran dan rusaklah yang bathil. Sesungguhnya yang bathil akan binasa.
Dan sebagaimana firman-Nya:
Tetapi kebatilan kami halau dengan kebenaran sehingga menjadi sia-sia maka kemudian ia binasa.
Belajar Membaca Al Hikam ( 13 )
Sebagian Tanda Kebutaan Hati
(KESUNGGUHAN KAMU UNTUK MEMPEROLEH APA YANG TELAH DIJAMIN الله UNTUKMU) Yaitu segala sesuatu yang telah الله tanggung seperti rizki sebagai kemurahan الله dan kebaikan-Nya, sebagaimana firman الله “Dan berapa banyak segala yang melata di atas bumi tidak membawa rizkinya. الله lah yang memberi rizki kepada mereka, demikian pula rizkimu…” SEDANGKAN KAMU LALAI TERHADAP KEWAJIPAN YANG DIAMANATKAN KEPADAMU) yaitu beberapa amalan ibadah yang menyebabkan kamu sampai kepada-Nya seperti beberapa bacaan dzikir dan shalawat dan lain-lain dari bermacam-macam keta’atan sebagai mana firman الله “Dan tidaklah Aku jadikan Jin dan Manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. ( yang demikian ini MENUNJUKKAN KEBUTAAN MATA HATIMU).
Sesuatu yang telah ditanggung الله bagi hambanya adalah rizki yang dengan rizki tersebut hamba الله dapat mempertahankan eksistensinya untuk hidup di dunia. Dan arti pertanggungan الله dalam hal rizki hamba-Nya adalah bahwa الله menjamin rizki untuk kelangsungan hidup hamba-Nya dan الله menghendaki hamba tersebut hatinya menjadi lapang serta tidak menanggung beban berat dalam mencarinya, atau hati menjadi susah karenanya. Adapun yang dituntut oleh الله atas hambanya adalah amal ibadah agar hamba tersebut dapat sampai kepada kebahagiaan di akhirat dan dekat dengan الله Ta’ala. Dan yang dimaksudkan ibadah sebagai tuntutan dari الله adalah bahwasanya serangkaian keta’atan tersebut menjadi beban yang harus dilakukan oleh hamba secara bersungguh-sungguh sebagaimana telah diatur dalam syari’at mengenai sebab dan waktunya dan lain sebagainya. Pada sebagian atsar diterangkan firman الله Ta’ala “Wahai hambaKu ta’atlah kepadaKu dan janganlah engkau mengaturKu untuk hal kebaikanmu”.
Telah berkata Ibrahim Al-Khawash, “Ilmu itu kesemuanya terdapat dalam dua kalimat yaitu ‘Jangan engkau bebani diri dengan sesuatu yang telah dijamin, dan jangan sia-siakan sesuatu yang diwajibkan. Oleh karena itu barang siapa yang telah mampu menempati keadaan ini (yaitu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban dan melapangkan hati terhadap sesuatu yang telah ditanggung الله Ta’ala) maka sungguh telah terbukalah mata hatinya dan telah bersinarlah nuurul Haq / cahaya kebenaran di dalam hatinya dan telah berhasilah ia mencapai puncak tujuan. Akan tetapi bagi yang sebaliknya, maka sengguh telah kabur dan butalah mata hatinya.
Adapun pengarang kitab ini rahimahuLlah memberikan istilah Ijtihad (bersungguh-sungguh), hal ini memberikan isyarah bahwa mencari rizki secara wajar dan tidak memforsir diri hanya untuk tujuan duniawi semata adalah tidak terecela dan mubah hukumnya, dan bukan termasuk perkara yang dapat mengeruhkan mata hati. Telah disebutkan dalam kitab Tanwirul Qulub, perihal firman الله Ta’ala, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk melakukan shalat, dan bersungguhlah dalam mengerjakannya. Sesungguhnya Aku tidak meminta rizki darimu akan tetapi Aku lah yang memberimu rizki” Maksud ayat ini adalah “Laksanakanlah pelayanan kepadaKu maka Aku akan melaksanakan pembagian rizki dariKu –Qum bikhidzmatiNa, wa Nahnu Naquumu laka biqismatiNaa.” Di sini terdapat dua perkara, yaitu perkara yang telah dijamin/ditanggung الله maka janganlah engkau sedih karenanya, dan perkara tuntutan الله kepadamu maka jangan di sia-siakan. Oleh karena itu barang siapa yang bersungguh-sungguh atas sesuatu yang telah dijamin sementara ia melalaikan sesuatu yang diwajibkan, maka tampak jelaslah kebodohannya, dan telah meluaslah kelalaiannya.
Bukankah kita telah melihat bahwa الله telah memberi rizki kepada orang yang durhaka kepada-Nya, maka bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang ta’at. Jikalau الله telah mengalirkan rizki-Nya kepada orang yang ingkar / kufur kepada-Nya, bagaimana mungkin الله tidak memberi rizki kepada hambanya yang beriman. Bukankah kita sebagai orang mukmin telah mengetahui dengan jelas bahwa dunia telah dijamin bagi kita, dan amal untuk akhirat adalah tuntutan bagi kita. Sebagaimana firman الله,”Watazawwaduu fa inna khaira zaad at-taqwa dan persiapkanlah bekal dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. Sebagian dari mereka (orang-orang shalih) berkata, “Sesungguhnya الله telah menjamin kemaslahatan duniaku dan الله menuntut amal untuk akhiratku. Dan Tidaklah الله menuntut kemaslahatan duniaku dan menjamin akhiratku.”
Belajar Membaca Al Hikam ( 12 )
Apabila Hawa Nafsu Dibelenggu Dengan Meninggalkan Perbuatan Dosa Maka Hati akan Dapat Menjelajah Alam Malakkut
BAGAIMAAN HATI DAPAT BERSINAR SEDANGKAN GAMBAR RUPA-RUPA ALAM TERPAHAT DI DALAM CERMINNYA. ATAU BAGAIMANA HATI DAPAT SEGERA BERANGKAT KEPADA ALLAH SWT PADAHAL IA TERBELENGGU DENGAN SYAHWAT-SYAHWATNYA. BAGAIMANA KITA SANGAT MENGINGINKAN DAPAT MASUK KE HADIRAT ALLAH SWT SEDANGKAN HATI BELUM SUCI DARI KOTORNYA KELALAIAN. BAGAIMANA KITA MENGHARAPKAN DAPAT MEMAHAMI HALUSNYA RAHASIA-RAHASIA SESUATU PERKARA SEDANGKAN HATI BELUM BERTAUBAT DARI KESALAHAN-KESALAHANNYA.
Bersatunya dua perkara yang berlawanan adalah mustahil (sesuatu yang tidak mungkin terjadi) seperti bersatunya gerak dan diam, bersatunya cahaya dan kegelapan. Dan beberapa permasalahan yang disampaikan di atas adalah sesuatu yang berlawanan yang tidak akan mungkin dapat bertemu.
Sesungguhnya bersinarnya hati itu disebabkan oleh cahaya iman dan yakin berlawanan dengan الظلمة (kegelapan) yang menguasainya sehingga menyebabkan berdamainya dia dengan الاغيار (Segala sesuatu selain Allah SWT) dan berdamainya pula ia dengan hal duniawi serta berpegangan erat ia dengannya.
Adapun berangkat menuju pendekatan diri kepada Allah SWT adalah dengan memotong jeratan hawa nafsu dan pengekangan syahwat, tidak dengan pelepasannya yang mengakibatkan diri menjadi terbelenggu tak berdaya untuk bergerak berangkat menuju Allah SWT.
Adapun masuk ke hadirat Allah SWT mewajibkan kesucian dari orang yang memasukinya serta kelurusan hati. Tidak dengan kekeruhan hati dan kelalaiannya yang akan menyebabkan kejauhan hati dari Allah SWT.
Untuk dapat memahami rahasia perkara yang halus dapat diperoleh dengan taqwa tidak dengan berlarut-larutnya berbuat maksiyat. Yang demikian ini telah diisyaratkan oleh firman Allah SWT
واتقو الله ويعلمكم الله
Dan bertakwalah kamu kepada Allah maka Allah akan mengajarimu.
Dan sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits
من عمل بما يعلم ورثه الله العلم ما لم يعلم
Barang siapa yang mengamalkan ilmu yang ia ketahui maka Allah SWT akan memberikan ilmu (baru) yang belum ia ketahu.
Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada Ahmad Ibn Aby al-Hawary RA, “Wahai Ahmad ceritakan kepadaku sebuah kisah yang pernah engkau dengar dari ustadz engkau Abu Sulaiman”. Kemudian Abi Al Hawary menjawab, “Aku pernah mendengar Abu Sulaiman berkata,’Apa bila hawa nafsu dibelenggu dengan meninggalkan perbuatan dosa maka hati akan dapat menjelajah alam malakut dan hati akan menjadi tempat datangnya hikmah walaupun ia tidak di bimbing oleh orang yang yang alim’”.
Mendengar itu maka Ahmad bin Hambal berdiri dari tempat duduknya tiga kali dan duduk kembali tiga kali sambil berkata, “Belum pernah aku mendengar di dalam hikayat islam sesuatu yang lebih mentakjubkan daripada ini”. Kemudian Ibnu Hambal membacakan hadits di atas dan berkata kepada Ahmad Abi al-Hawary, “Engkau benar wahai Ahmad, dan benar pula ustadz engkau, “. Dan karena inilah Al-Muallif merasa heran terhadap orang yang beri’tiqad adanya persekutuan dari dua hal yang berlawanan tadi dan itu adalah sesuatu yang mustahil. Demikian pula mengherankan bagi orang yang menginginkan derajat Rijal sedang diri masih memiliki karakter yang tidak baik.......
Rabu, 05 Januari 2011
Belajar Membaca Al Hikam ( 11 )
Shiddiq
Alloh SWT berfirman, “
يَاأاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْ ااتَّقُواْ اللّهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah 119)
RasuluLlah SAW bersabda :
لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ تَعَالَى صِدِّيْقًا لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ كَذَّابًا
Ustadz Abu Ali Ad Daqaq berkata, “Shidiq/benar adalah tiang semua perkara. Dengannya perkara menjadi sempurna, di dalamnya perkara menjadi tersusun rapi. Kebenaran / shidiq lah yang mengiringi kenabian. Alloh SWT berfirman :
فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ انَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِوَالصَّالِحِيْنَ
Mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh yaitu para Nabi, para Shidiqiin, para syuhada dan shalihiin”. (An-Nisa 68)
Shadiq atau orang yang ahli kebenaran adalah suatu nama yang harus dikaitkan dengan kebenaran. Sedangkan shidiq untuk tingkatan yang lebih tinggi adalah orang yang banyak atau sangat dalam hal kebenaran. Orang seperti ini kehidupannya banyak didominasi oleh nilai-nilai kebenaran. Hal itu seperti as-sakiir yaitu orang yang ahli mabuk (karena Tuhan) dan al-khamir yaitu orang yang sangat kecanduan minuman khamer. Paling rendah tingkatan shidiq adalah kesamaan baginya antara yang rahasia dan yang tampak. Orang yang shidiq adalah orang yang benar dalam ucapannya, sementara as-shidiqqi adalah orang yang benar dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya.
Ahmad bin Khadrawaih berkata, “Barang siapa yang menginginkan Alloh senantiasa bersamanya, maka hendaklah tetap dalam kebenaran. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang benar”. Al-Junaid mengatakan, “Orang yang benar dalam keseharian akan mengalami pembolak-balikan sebanyak 40 kali, sedangkan orang yang riya dalam 40 tahun tetap dalam satu keadaan”.
Abu Sulaiman Ad-Daraani berkata, “Kalau orang yang benar hendak mensifati apa yang ada di dalam hatinya maka lidahnya tidak akan berkata sesuatupun”.
Dikatakan, “Kebenaran adalah ucapan yang benardi tempat-tempat yang rusak. Kebenaran adalah kesesuaian antara rahasia dan ucapan”.
An-Naqad mengatakan, “Kebenaran adalah pencegahan yang haram”.
Abdul Wahid bin Zaid mengatakan, “Kebenaran adalah pemenuhan hak Alloh dengan perbuatan”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “hamba yang mencium bau dirinya (nafsunya) atau yang lain maka tidak akan mencium bau kebenaran”.
Abu Said Al-Quraisy mengatakan, “Orang yang benar adalah orang yang mempersiapkan kematiannya dan dia tidak malu jika rahasia pribadinya terungkap”.
Alloh SWT berfirman :
فَتَمَنَّوُاالْمَوْتَ اِنْكُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
..”maka inginkanlah kematian jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Baqarah 94).
Dari Ustadz Abiu Ali Ad-Daqaq yang mengkisahkan bahwa suatu hari Abu Ali Ats-Tsaqafi berkata yang kemudian ditimpali oleh AbduLlah bin Manazil, “Hai Abu Ali, persiapkanlah kematianmuyang merupakan suatu kepastian.”
Peringatan itu disambut sama oleh Abu Ali, “Dan engkau AbduLlah, persiapkanlah kematianmu yang sudah pasti (datang)”.
AbduLlah pun lantas menggelantungkan tangannya dan meletakkan kepalanya sedemikian rupa seraya berkata, “Saya pasti mati”.
Maka Abu Ali terpaku karena dia tidak mungkin menerimanyadengan apa yang dikerjakan AbduLlah, juga karena Abu Ali mempunyai beberapa ketergantungan (pekerjaan) sementara AbduLlah tidak memiliki kesibukan sama sekali (tajrid).
Ahmad bin Muhammad Ad-Dinawari memberikan fatwa, tidak lama kemudian seorang wanita tua berteriak di majlis dengan teriakan yang nyaring. Abul Abas yang melihatnya nberkata, “Kematian pasti datang. Dia melangkah”.
Wanita tua itu menoleh kepadanya seraya berkata, “Saya pasti mati”. Dan sekejap kemudian maut pun menjemputnya
Muhammad Al Washiti berkata, “Kebenaran adalah kebenaran tauhid yang seiring dengan tujuan”. Diceritakan bahwa Abdul Wahid bin Zaid suatu hari memandang seorang bocah dari salah seorang anak temannya. Bocah itu badannya sangat kurus.
“Apa engkau selalu berpuasa wahai anakku ?”
“Saya tidak selamanya berbuka”. Jawab anak itu.
“Apakah kamu selalu shalat malam ?”
“Saya tidak selamanya tidur”.
“Apa yang membuat badanmu kurus ?”
“Keinginan yang selalu ada dan ketersimpanan yang selalu menetap dalam keinginan”.
“Engkau diamlah, maka tidak akan ada yang dapat mencelakakan dirimu”.
Anak itu berdiri kemudian melangkah dua langkah lalu bergumam,”Tuhan, jika Engkau benar, maka ambilah saya”. Seketika itu juga sang anak jatuh tersungkur dalam keadaan tidak bernyawa.
Abu Amar Az-Zujaji bercerita,” Ibu saya telah meninggal dan saya mewarisi darinya sebuah rumah lalu saya jual seharga 50 dinar kemudian saya berangkat pergi haji. Ketika sampai di kota Babil, seorang pegawai pengairan menemani saya dan bertanya ,’Apa yang engkau bawa ?’
Sebelum menjawab, saya berkata di dalam hati, ‘kebenaran adalah kebaikan’. Kemudian saya baru menjawab dengan jelas, “Yang aku bawa uang 50 dinar”.
“Serahkan kepadaku”.
Sayapun menyerahkan bungkusan uang itu. Dia menghitungnya dan memang ditemuakn sejumlah yang saya sebut, namun kemudian ia mengembalikannya kepadaku seraya berkata, “Ambil bungkusan ini, kebenaran (kejujuran) mu telah memberikan kepadaku”.
Dia lantas turun dari kuda dan emngatakan, “Naiklah binatang ini”.
“Tidak, saya tidak menginginkannya”.
“Harus !” Katanya lebih tegas.
Lelaki it uterus mendesakku sampai saya menaiki kendaraannya. “Dan saya akan mengikuti jejakmu”…katanya kemudian
Pada tahun berikutnya dia menjumpaiku dan tetap bersikap seperti semula kepadaku hingga ia mati.
Ibrahim Al-Khawash berkata, “Orang yang benar tidak bias kamu lihat kecuali dalam kewajiban yang ditunaikannya atau keutamaan yang dikerjakan untuk Tuhannya”.
Al-Junaid mengatakan, “Hakikat kebenaran adalah keberadaanmu yang berani membenarkan sesuatu di tempat-tempat yang tidak akan menyelamatkanmu kecuali kebohongan”.
Dikatakan bahwa ada tiga hal yang tidak bias disalahkan yaitu orang yang benar yang merasakan manisnya kehadiran Al-Haq, rasa segan karena penghormatan pada Alloh, dan cahaya ta’at yang membias di wajah. Dikatakan pula bahwa Alloh pernah mewahyukan pada Nabi Dawud AS, “Hai Dawud, Barang siapa membenarkan-Ku dlam kerahasiaannya, maka aku pasti membenarkannya dihadapan para makhluk di dalam suasana ramai”.
Diveritakan bawa Ibrahim bin Dauhah bersama Ibrahim bin Satanabah Al-Badiyah memasuki suatu ruangan. Tiba-tiba Ibnu Satanabah mengatakan, “Buanglah apa saja yang kamu bawa yang membuatmu ketergantungan”.
“Lalu saya membuang semua yang ada padaku selain dinar”. Kata Ibnu Daulah.
“Hai Ibrahim janganlah kamu menyiibukkan yang tersembunyi. Buanglah apa yang ada bersamamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.
“sayapun lantas membuang dinar”.
“Hai Ibrahim, buang apa yang ada bersmamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.
“Saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya bawa. Saya baru sadar bahwa saya membawa seutas tali sandal. Saya lalu membuangnya. Saya sudah tidak butuh lagi tali sandal dalam perjalanan kecuali yang saya dapatkan di hadapan saya”.
Melihat itu Ibrahim bin Satanabah berkata, “Seperti inilah orang yang bekerja pada alloh dengan kebenaran”.
Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Kebenaran adalah pedang Alloh. Tidak ada satupun yang ditempatinya malinkan akan diputusnya”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Awal penghianatan orang-orang yang benar adalah ucapan-ucapan mereka dengan diri mereka sendiri”.
Fatah Al-Maushuli pernah ditanya tentang kebenaran, dia lantas memasukkan tangannya ke dalam tungku panas tempat pembakaran besi dan mengeluarkan besi panas dan diletakkan di telapak tangannya, “Inilah kebenaran”. Ucapnya.
Yusuf bin Asbath mengatakan, “Karena di waktu malam saya bias bergadang dengan kebenaran bersama Alloh, maka hal itu lebih saya sukai daripada saya memukulkan pedangku di jalan Alloh”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Kebenaran adalah keberadaanmu sebagaimana yang kamu lihat pada dirimu atau kamu melihat dirimu sebagaimana keberadaanmu”.
Al-Harits Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tanda-tanda kebenaran lalu dijawab, “Orang yang benar adalah orang yang tidak peduli seandainya segala hal yang berharga menjadi miliknya keluar masuk ke dalam hati para makhluk untuk perbaikan dirinya. Dia juga tidak senang menampakkan pada manusia kebaikan-kebaikan amalnya meski hanya seberat biji-bijian. Atau juga tidak membenci jika perbuatan buruknya ditampakkan pada manusia. Jika tidak denmikian ini maka belumlah termasuk akhlak orang-orang yang benar”.
Sebagian sufi mengatakan, “Orang yang belum menuneikan kewajiban abadi, maka kewajiban yang insidentil tidak akan diterima.” Lalu ditanyakan, “Apa yang dimaksud kewajiban abadi ?” Kemudian dijawab, “Kebenaran”.
Dikatakan, “Jika engkau menmcari Alloh dengan kebenaran, maka Alloh pasti akan memberimu cermin yang kamu dapat melihat segala hal keajaiban dunia dan akhirat di dalam cermin itu. Dikatakan pula, engkau wajib bersama kebenaran. Sekiranya kamun takut kebenaran akan membahayakanmu, sesungguhnya dia akan memberimu manfaat. Kalau sekiranya kamu melihat kebenaran dapat memberimu manfaat, sesungguhnya ia malah akan membahayakanmu.”
Dikabarkan, segala sesuatu adalah sesuatu, membenarkan kebohongan bukanlah sesuatu. Tanda orang bohong adalah kedermawanannya dengan sumpah meski tanpa diminta (untuk bersumpah).
Ibnu Sirin mengatakan, “Ucapan lebih luas dari kebohongan orang yang cerdik”. Dikatakan pula bahwa yang melunakkan pedang adalah kebenaran.
Alloh SWT berfirman, “
يَاأاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْ ااتَّقُواْ اللّهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah 119)
RasuluLlah SAW bersabda :
لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ تَعَالَى صِدِّيْقًا لآ يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّهِ كَذَّابًا
Ustadz Abu Ali Ad Daqaq berkata, “Shidiq/benar adalah tiang semua perkara. Dengannya perkara menjadi sempurna, di dalamnya perkara menjadi tersusun rapi. Kebenaran / shidiq lah yang mengiringi kenabian. Alloh SWT berfirman :
فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ انَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِوَالصَّالِحِيْنَ
Mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh yaitu para Nabi, para Shidiqiin, para syuhada dan shalihiin”. (An-Nisa 68)
Shadiq atau orang yang ahli kebenaran adalah suatu nama yang harus dikaitkan dengan kebenaran. Sedangkan shidiq untuk tingkatan yang lebih tinggi adalah orang yang banyak atau sangat dalam hal kebenaran. Orang seperti ini kehidupannya banyak didominasi oleh nilai-nilai kebenaran. Hal itu seperti as-sakiir yaitu orang yang ahli mabuk (karena Tuhan) dan al-khamir yaitu orang yang sangat kecanduan minuman khamer. Paling rendah tingkatan shidiq adalah kesamaan baginya antara yang rahasia dan yang tampak. Orang yang shidiq adalah orang yang benar dalam ucapannya, sementara as-shidiqqi adalah orang yang benar dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya.
Ahmad bin Khadrawaih berkata, “Barang siapa yang menginginkan Alloh senantiasa bersamanya, maka hendaklah tetap dalam kebenaran. Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang benar”. Al-Junaid mengatakan, “Orang yang benar dalam keseharian akan mengalami pembolak-balikan sebanyak 40 kali, sedangkan orang yang riya dalam 40 tahun tetap dalam satu keadaan”.
Abu Sulaiman Ad-Daraani berkata, “Kalau orang yang benar hendak mensifati apa yang ada di dalam hatinya maka lidahnya tidak akan berkata sesuatupun”.
Dikatakan, “Kebenaran adalah ucapan yang benardi tempat-tempat yang rusak. Kebenaran adalah kesesuaian antara rahasia dan ucapan”.
An-Naqad mengatakan, “Kebenaran adalah pencegahan yang haram”.
Abdul Wahid bin Zaid mengatakan, “Kebenaran adalah pemenuhan hak Alloh dengan perbuatan”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “hamba yang mencium bau dirinya (nafsunya) atau yang lain maka tidak akan mencium bau kebenaran”.
Abu Said Al-Quraisy mengatakan, “Orang yang benar adalah orang yang mempersiapkan kematiannya dan dia tidak malu jika rahasia pribadinya terungkap”.
Alloh SWT berfirman :
فَتَمَنَّوُاالْمَوْتَ اِنْكُنْتُمْ صَادِقِيْنَ
..”maka inginkanlah kematian jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (Al-Baqarah 94).
Dari Ustadz Abiu Ali Ad-Daqaq yang mengkisahkan bahwa suatu hari Abu Ali Ats-Tsaqafi berkata yang kemudian ditimpali oleh AbduLlah bin Manazil, “Hai Abu Ali, persiapkanlah kematianmuyang merupakan suatu kepastian.”
Peringatan itu disambut sama oleh Abu Ali, “Dan engkau AbduLlah, persiapkanlah kematianmu yang sudah pasti (datang)”.
AbduLlah pun lantas menggelantungkan tangannya dan meletakkan kepalanya sedemikian rupa seraya berkata, “Saya pasti mati”.
Maka Abu Ali terpaku karena dia tidak mungkin menerimanyadengan apa yang dikerjakan AbduLlah, juga karena Abu Ali mempunyai beberapa ketergantungan (pekerjaan) sementara AbduLlah tidak memiliki kesibukan sama sekali (tajrid).
Ahmad bin Muhammad Ad-Dinawari memberikan fatwa, tidak lama kemudian seorang wanita tua berteriak di majlis dengan teriakan yang nyaring. Abul Abas yang melihatnya nberkata, “Kematian pasti datang. Dia melangkah”.
Wanita tua itu menoleh kepadanya seraya berkata, “Saya pasti mati”. Dan sekejap kemudian maut pun menjemputnya
Muhammad Al Washiti berkata, “Kebenaran adalah kebenaran tauhid yang seiring dengan tujuan”. Diceritakan bahwa Abdul Wahid bin Zaid suatu hari memandang seorang bocah dari salah seorang anak temannya. Bocah itu badannya sangat kurus.
“Apa engkau selalu berpuasa wahai anakku ?”
“Saya tidak selamanya berbuka”. Jawab anak itu.
“Apakah kamu selalu shalat malam ?”
“Saya tidak selamanya tidur”.
“Apa yang membuat badanmu kurus ?”
“Keinginan yang selalu ada dan ketersimpanan yang selalu menetap dalam keinginan”.
“Engkau diamlah, maka tidak akan ada yang dapat mencelakakan dirimu”.
Anak itu berdiri kemudian melangkah dua langkah lalu bergumam,”Tuhan, jika Engkau benar, maka ambilah saya”. Seketika itu juga sang anak jatuh tersungkur dalam keadaan tidak bernyawa.
Abu Amar Az-Zujaji bercerita,” Ibu saya telah meninggal dan saya mewarisi darinya sebuah rumah lalu saya jual seharga 50 dinar kemudian saya berangkat pergi haji. Ketika sampai di kota Babil, seorang pegawai pengairan menemani saya dan bertanya ,’Apa yang engkau bawa ?’
Sebelum menjawab, saya berkata di dalam hati, ‘kebenaran adalah kebaikan’. Kemudian saya baru menjawab dengan jelas, “Yang aku bawa uang 50 dinar”.
“Serahkan kepadaku”.
Sayapun menyerahkan bungkusan uang itu. Dia menghitungnya dan memang ditemuakn sejumlah yang saya sebut, namun kemudian ia mengembalikannya kepadaku seraya berkata, “Ambil bungkusan ini, kebenaran (kejujuran) mu telah memberikan kepadaku”.
Dia lantas turun dari kuda dan emngatakan, “Naiklah binatang ini”.
“Tidak, saya tidak menginginkannya”.
“Harus !” Katanya lebih tegas.
Lelaki it uterus mendesakku sampai saya menaiki kendaraannya. “Dan saya akan mengikuti jejakmu”…katanya kemudian
Pada tahun berikutnya dia menjumpaiku dan tetap bersikap seperti semula kepadaku hingga ia mati.
Ibrahim Al-Khawash berkata, “Orang yang benar tidak bias kamu lihat kecuali dalam kewajiban yang ditunaikannya atau keutamaan yang dikerjakan untuk Tuhannya”.
Al-Junaid mengatakan, “Hakikat kebenaran adalah keberadaanmu yang berani membenarkan sesuatu di tempat-tempat yang tidak akan menyelamatkanmu kecuali kebohongan”.
Dikatakan bahwa ada tiga hal yang tidak bias disalahkan yaitu orang yang benar yang merasakan manisnya kehadiran Al-Haq, rasa segan karena penghormatan pada Alloh, dan cahaya ta’at yang membias di wajah. Dikatakan pula bahwa Alloh pernah mewahyukan pada Nabi Dawud AS, “Hai Dawud, Barang siapa membenarkan-Ku dlam kerahasiaannya, maka aku pasti membenarkannya dihadapan para makhluk di dalam suasana ramai”.
Diveritakan bawa Ibrahim bin Dauhah bersama Ibrahim bin Satanabah Al-Badiyah memasuki suatu ruangan. Tiba-tiba Ibnu Satanabah mengatakan, “Buanglah apa saja yang kamu bawa yang membuatmu ketergantungan”.
“Lalu saya membuang semua yang ada padaku selain dinar”. Kata Ibnu Daulah.
“Hai Ibrahim janganlah kamu menyiibukkan yang tersembunyi. Buanglah apa yang ada bersamamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.
“sayapun lantas membuang dinar”.
“Hai Ibrahim, buang apa yang ada bersmamu dari hal-hal yang membuatmu ketergantungan”.
“Saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya bawa. Saya baru sadar bahwa saya membawa seutas tali sandal. Saya lalu membuangnya. Saya sudah tidak butuh lagi tali sandal dalam perjalanan kecuali yang saya dapatkan di hadapan saya”.
Melihat itu Ibrahim bin Satanabah berkata, “Seperti inilah orang yang bekerja pada alloh dengan kebenaran”.
Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Kebenaran adalah pedang Alloh. Tidak ada satupun yang ditempatinya malinkan akan diputusnya”.
Sahal bin AbduLlah mengatakan, “Awal penghianatan orang-orang yang benar adalah ucapan-ucapan mereka dengan diri mereka sendiri”.
Fatah Al-Maushuli pernah ditanya tentang kebenaran, dia lantas memasukkan tangannya ke dalam tungku panas tempat pembakaran besi dan mengeluarkan besi panas dan diletakkan di telapak tangannya, “Inilah kebenaran”. Ucapnya.
Yusuf bin Asbath mengatakan, “Karena di waktu malam saya bias bergadang dengan kebenaran bersama Alloh, maka hal itu lebih saya sukai daripada saya memukulkan pedangku di jalan Alloh”.
Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Kebenaran adalah keberadaanmu sebagaimana yang kamu lihat pada dirimu atau kamu melihat dirimu sebagaimana keberadaanmu”.
Al-Harits Al-Muhasibi pernah ditanya tentang tanda-tanda kebenaran lalu dijawab, “Orang yang benar adalah orang yang tidak peduli seandainya segala hal yang berharga menjadi miliknya keluar masuk ke dalam hati para makhluk untuk perbaikan dirinya. Dia juga tidak senang menampakkan pada manusia kebaikan-kebaikan amalnya meski hanya seberat biji-bijian. Atau juga tidak membenci jika perbuatan buruknya ditampakkan pada manusia. Jika tidak denmikian ini maka belumlah termasuk akhlak orang-orang yang benar”.
Sebagian sufi mengatakan, “Orang yang belum menuneikan kewajiban abadi, maka kewajiban yang insidentil tidak akan diterima.” Lalu ditanyakan, “Apa yang dimaksud kewajiban abadi ?” Kemudian dijawab, “Kebenaran”.
Dikatakan, “Jika engkau menmcari Alloh dengan kebenaran, maka Alloh pasti akan memberimu cermin yang kamu dapat melihat segala hal keajaiban dunia dan akhirat di dalam cermin itu. Dikatakan pula, engkau wajib bersama kebenaran. Sekiranya kamun takut kebenaran akan membahayakanmu, sesungguhnya dia akan memberimu manfaat. Kalau sekiranya kamu melihat kebenaran dapat memberimu manfaat, sesungguhnya ia malah akan membahayakanmu.”
Dikabarkan, segala sesuatu adalah sesuatu, membenarkan kebohongan bukanlah sesuatu. Tanda orang bohong adalah kedermawanannya dengan sumpah meski tanpa diminta (untuk bersumpah).
Ibnu Sirin mengatakan, “Ucapan lebih luas dari kebohongan orang yang cerdik”. Dikatakan pula bahwa yang melunakkan pedang adalah kebenaran.
Langganan:
Postingan (Atom)






