Belajar membaca kehidupan sebagai upaya mengenali diri sendiri sebagai bekal untuk lebih mengenal-Nya
Jumat, 14 Januari 2011
Panggilan Sedih Penghuni Kubur
Di dalam kitabnya Lubb al-Lubab Ar-Rawandi mengatakan:
Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa orang-orang yang telah meninggal, mereka datang setiap Jumaat pada bulan Ramadhan. Mereka berdiri dan masing-masing mereka memanggil dengan suara sedih dan menangis:
“Wahai keluargaku, wahai anak-anakku, wahai kerabatku, sayangi aku dengan sesuatu semoga Allah menyangimu. Ingatlah kami, jangan lupakan kami dengan doa. Sayangi kami dan keterasingan kami. Kami telah diabadikan di penjara yang sempit, kesedihan dan penderitaan yang lama masanya. Maka sayangi kami, jangan bakhil kepada kami dengan doa dan sedekah untuk kami. Semoga Allah menyayangi kita sebelum kalian seperti kami. Alangkah sedihnya kami! Kami sebenarnya mampu sebagaimana kalian mampu. Wahai hamba-hamba Allah, dengarlah bicara kami, jangan lupakan kami, kerana kalian pasti akan mengetahui dan merasakan besok. Infakkan apa yang kalian miliki. Dahulu kami juga miliki, tetapi kami tidak menginfakkan di jalan ketaatan kepada Allah, kami menahannya di jalan kebenaran, sehingga kurnia itu menjadi malapetaka bagi kami dan bermanfaat bagi orang lain. Sayangi kami walaupun dengan satu dirham, sepotong roti atau segelas minuman.” Kemudian mereka memanggil: “Cepatlah kalian menangisi diri kalian, menangisi segala yang tidak bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami menangisi diri kami dan segala yang tidak bermanfaat bagi kami. Bersungguh-sungguhlah kalian sebelum kalian seperti kami.”
(Mustadrak Al-Wasail 2: 162, bab 39, hadis ke 697)
Kemudian Nabi saw menangis, dan kami pun ikut menangis bersama Nabi saw, sehingga Nabi tidak mampu bercakap kerana banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka adalah saudara-saudara kalian dalam agama. Mereka telah dihancurkan oleh tanah sesudah mereka memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan di dunia. Mereka memanggil dengan kata-kata celaka dan penyelasan atas diri mereka. Mereka berkata: Celakalah kami, sekiranya apa yang kami miliki kami infakkan dalam ketaatan dan keredhaan Allah, nescaya kami tidak menyusahkan kalian. Kemudian mereka kembali dengan sedih dan menyesal. Kerana itu, segeralah kamu bersedekah untuk keluarga kalian yang telah meninggal.” (Jami’ul Akhbar: 169)
Dalam hadis yang lain disebutkan: “Tidaklah kamu bersedekah untuk orang yang telah meninggal, kecuali malaikat mengambilnya di puncak cahaya yang sinarnya memancar sampai ke tujuh langit, kemudian ia berdiri di tepi liang kuburnya seraya memanggil: Assalamu’alaikum wahai penghuni kubur, keluargamu memberikan hadiah ini untukmu, lalu penghuni kubur itu mengambilnya dan membawanya ke kuburnya, sehingga menjadi luaslah tempat pembaringannya.” Kemudian Imam (sa) berkata: “Ingatlah, barangsiapa yang menyayangi orang yang telah meninggal dengan sedekah, ia memiliki pahala di sisi Allah sama dengan pahala orang yang berperang di perang uhud; dan pada hari kiamat nanti ia akan mendapat naungan arasy Allah, hari tidak ada naungan kecuali naungan arasy. Dengan sedekah orang yang hidup, yang meninggal dapat diselamatkan.” (Jami’ul Akhbar: 169)
Dalam suatu hadis dikatakan: “Sungguh ada seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya ketika mereka masih hidup, kemudian keduanya meninggal, tetapi ia tidak melaksanakan apa yang mereka tinggalkan dalam agamanya dan tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang durhaka. Ada juga seorang hamba yang tercatat sebagai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan tidak berbakti kepada mereka ketika mereka masih hidup, tetapi setelah mereka meninggal ia melaksanakan apa yang mereka ditinggalkan dalam agamanya, dan memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah azza wa jalla mencatatnya sebagai anak yang berbakti.” (Al-Kafi 2: 163, hadis ke 21)
Beliau juga berkata: “Sesungguhnya seorang mayyit, ia merasakan bahagia akibat kasih sayang yang dihadiahkan kepadanya dan permohonan ampunan untuknya, sebagaimana orang yang hidup bahagia dengan hadiah yang diberikan kepadanya. (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 554)
Sabda Rasulullah juga “Barangsiapa dari kalangan muslimin yang melakukan amal soleh untuk orang yang telah meninggal, Allah melipatgandakan pahala baginya dan dengannya memberi manfaat pada orang yang telah meninggal.” (Al-Faqih 1: 117, hadis ke 556)
Dalam suatu riwayat dikatakan: Jika seseorang bersedekah dengan diniatkan untuk orang yang telah meninggal, Allah memerintahkan kepada malaikat Jibril agar datang membawa seribu malaikat ke kuburnya, dan masing-masing malaikat membawa tempat makanan dan berkata: “Salam atasmu wahai kekasih Allah, ini hadiah dari Fulan bin Fulan untukmu.”
“Kemudian bercahayalah kuburnya, dan Allah memberikan kepadanya seribu kota di surga, mengawinkannya dengan seribu bidadari, memberinya seribu pakaian yang baru, dan menunaikan baginya seribu keinginan.” (Al-Bihar 82: 63, hadis ke 7)
Secuil Tentang Syech Abdul Qadir ( 3 )
Al-Hafidz Abu Zar’ah Dzahir bin Dzahir AL Maqdisy ad-Daari berkisah, “Aku pernah menghadiri majlis Syaikh Abdul Qadir dan beliau berkata, ‘Perkataanku ini ditujukan kepada orang-orang yang datang dari balik gunung Qaf. Mereka yang kakinya menapak di udara dan hati mereka di hadapan Al-Quds. Belitan serban dan tutup kepala mereka seakan akan terbakar karena rasa rindu kepada Tuhan mereka.’ Pada saat itu putra beliau Syaikh Abdurrazaq juga dalam majlis tersebut dan duduk di depan kaki ayahnya. Kamudian beliau menegadahkan kepalanya ke langit. Beberapa saat kemudian beliau menekurkan kepalanya (pingsan_ dan serban yang dijadikan penutup kepalanya terbakar. Sang Syaikh turun dari kursinya dan memadamkan api tersebut seraya berkata, ‘Dan engkau AbduRrazaq adalah salah seorang dari mereka’”. Setelah itu aku bertanya kepada Syaikh AbduRrazaq tentang apa yang menyebabkan ia pingsan, beliau mengatakan, “ketika aku menengadah menatap ke udara, aku melihat orang-orang dengan api di pakaian mereka memenuhi ufuk dan sedang mendengarkan beliau. Di antara mereka ada yang duduk di udara.sebagian yang lain duduk di tanah mendengarkan beliau dan yang lain terbang menyambar-nyambar di tempatnya”.
Syaikh AbduLlah Al-Ashbahani Al-Qamari Al-Jabali berkata, “Pada suatu malam yang diterangi bulan aku mendapatkan para penghuni pegunungan Libanon sedang berkumpul kemudian terbang ke Iraq kelompok demi kelompok. Akupun bertanya kepada sahabatku yang merupakan salah seorang dari mereka tentang penyebabnya, dia menjawab, ‘Khidir as. Memerintahkan kami untuk mendatangi Baghdaddan menghadap seorang Quthb.’ ‘Siapa Quthb tersebut ?’ ‘Syaikh Abdul Qadir ra.’ jawabnya. Kemudian aku memohon kepadanya untuk diizinkan ikut bersamanya. Shabatku mengabulkan permohonanku dan akupun pergi bersamanya tebang di udara. Tak lama kemudian kami tiba di Baghdad dan akupun melihat para penghuni Jabal tersebut telah berbaris di hadapan sang Syaikh. Pemimpinnya memanggil sang Syaikh dengan sebutan tuanku. Beliau memberikan perintah kepada mereka kemudian menyuruh mereka untuk kembali. Maka merekapun terbang ke tempat semula. Aku berkata kepada sahabatku, ‘Adab dan cepatnya kalian melaksanakan apa yang diperintahkan beliau belum pernah aku lihat sebelum ini’. ‘Saudaraku,’ jawab sahabatku. ‘bagaimana kami tidak melaksanakan perintah itu kepada orang yang berkata, ‘Kedua kakiku ini ada di punggung setiap wali Allah’. Kami telah diperuntahkan untuk menghormati dan mentaatinya’”.
http://hidangan-ilahi.blogspot.com/2010/01/para-penghuni-pegunungan-libanon.html
Secuil Tentang Syech Abdul Qadir (2)
MENITI JALAN ILAHI
Diriwayatkan dari Syaikh Abdullah An-Najjar bahwasanya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah berkata saat dilanda berbagai cobaan yang berat, “Jika banyak cobaan yang menimpa diriku, aku berbaring di atas tanah dan berkata, ‘Sesungguhnya sesudah kesusahan ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesusahan ada kemenangan’. Dan ketika aku bangun berbagai beban tadi telah pergi dariku”.
Kemudian sang Syaikh melanjutkan, “Setelah belajar fiqih dari para syaikh, aku pergi dari Baghdad ke daerah padang pasir. Aku tinggal diantara pohon Kharab. Aku memakai jubah kaum sufi dengan sepotong kain di atas kepalaku dan berjalan dengan kaki telanjang. Memakan Khurnub (carob / ceratonia Siliqua) atau Syuuk (caltrop / Tribulus), sampah para pedagang dan daun kol yang tumbuh di tepian sungai. Aku jalani semua rintangan dan berjalan mengikuti kehendak Allah. Ketika tiba di padang pasir aku berteriak, ‘ludahi mukaku’. Ketika itu aku hanya dikenal sebagai si bodoh atau si gila. Kakiku membawaku ke Bimaristan dan aku hampir meninggal di sana. Para penduduk datang dengan membawa kain kafan dan tukang memandikan mayat, kemudian mereka mengangkat aku ke tempat pemandian untuk memandikanku dan kemudian meninggalkanku”.
Syaikh Abu Su’ud Al-Harimi meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syaikh Abdul Qadir berkata, “Selama 25 tahun aku mendiami padang pasir Iraq, selama itu aku tidak pernah bertemu dengan orang, maupun diketemukan orang. Pada masa itu sekelompok Jin dan Rijal Gaib datang kepadaku dan aku mengajarkan jalan menujun Allah kepada mereka. Nabi Khidir AS menemaniku pada saat aku tiba di Iraq untuk pertama kali walaupun aku tidak pernah berjumpa beliau sebelumnya. Baliau mengajukan syarat kepadaku untuk tidak membantahnya dan berkata kepadaku “Duduk di sini” akupun duduk di situ selama tiga tahun dan setiap tahun beliau mendatangiku dan berkata “tetap di tempatmu sampai aku datang”. Pada masa itu , dunia serta segala kemewahan dan keindahannya menjelma dan datang kepadaku namun Allah melindungiku dari semua itu Kemudian setan mendatangiku dalam bentuk yang menakutkan dan memerangiku namun Allah menguatkanku. Allah tampakkan pula nafsuku dalam bentuk yang terkadang tunduk kepada apa yang aku inginkan tapi kadang pula memerangiku dan Allah memenangkan aku atas dirinya. Semua metode mujahadah aku jalani pada masa awal perjalanan spiritualku bertahun tahun lamanya aku menempati pinggiran kota menempa diri. Ada kalanya dalam setahun aku hanya memakan makanan dan tidak minum. Kemudian pada tahun berikutnya aku hanya minum dan tidak makan. Kamudian tahun berikutnya aku tidak makan dan minum serta tidur selama setahun.
Pada suatu malam yang sangat dingin aku tertidur di Iwan Al-Kisra dan bermimpi basah. Aku bangun dan langsung mandi kemudian tidur dan kembali bermimpi . Aku kembali bangun, pergi ke sungai dan mandi besar. Pada malam itu aku berjunub dan mandi sebanyak 40 kali. Akhirnya aku memanjat menara Iwan Al-Kisra karena takut akan bermimpi lagi “.
“Betahun tahun aku hanya tinggal di sebuah gubuk reyot dan hanya makan kain bajuku. Setiap tahun seseorang memakai jubah sufi dating kepadaku dan memasukkan aku ke seribu fan hingga aku melupakan dunia……..Saat itu aku hanya dikenal sebagai si bodoh atau si gila dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Aku selalu melewati rintangan yang ada dan tidak takluk kepada nafsu dan tiak pula tergoda dengan kemewahan dunia “.
Syaikh Umar meriwayatkan bahwa beliau pernah mendengar Syaikh Abdul Qadir berkata, “Pada permulaan perjalanan spiritualku, berbagai kondisi spiritual mendatangiku. Aku menyambutnya dan tenggelamlah “aku “ di dalamnya. Dalam keadaan tersebut aku biasanya berlari-lari tanpa sadar. Bila aku keluar dari kondisi tersebut, aku akan mendapatkan diriku telah jauh dari tempat aku masuk ke dalam kondisi spiritual tersebut “.
Pernah suatu ketika aku masuk ke dalam sebuah kondisi spiritual di Baghdad dan aku berlari kira-kira satu jam tanpa sadar. Setelah sadar aku mendapati diriku berada di negeri Systar yang berjarak 12 hari perjalanan dari Baghdad. Ketika aku sedang memikirkan perkaraku ini , tiba-tiba ada seorang wanita berkata kepadaku, ’engkau terpesona dengan kondisimu padahal engkau Syaikh Abdul Qadir Jailani ‘.
Syaikh Utsman Shairafi meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qadir bercerita, “Siang maupun malam aku tinggal di padang pasir, bukan di Baghdad. Sepanjang masa itu para setan mendatangiku berbaris dengan rupa yang menakutkan, menyandang senjata dan melontariku dengan api. Namun saat itu pula aku mendapatkan keteguhan dalam hatiku yang tak dapat aku ceritakan dan aku mendengar suara dari dalam hatiku yang berkata “Bangkit hai Abdul Qodir” telah kami teguhkan engkau dan kami dukung engkau. dan ketika aku bangkit mereka pun kocar-kacir, kembali ke tempat semula
Setelah itu ada setan lagi datang dan mengancamku dengan berbagai ancaman, akupun bangun dan menamparnya hingga dia lari pontang panting. Kemudian aku baca Laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adziim, dan terbakarlah ia. Di lain waktu setan mendatangiku dengan rupa seorang yang buruk rupa dan berbau busuk seraya berkata “Aku Iblis datang melayanimu karena ku dan para pengikutku telah putus asa terhadapmu. “Pergi” kataku kepadanya. aku tidak percaya dengan apa yang engkau ucapkan. Saat itu muncul tangan dari langit memukul ubun-ubunnya hingga iblis tersebut terbenam ke dalam bumi.
Ke dua kalinya iblis tersebut mendatangiku dengan membawa sebuah bola api untuk menghancurkan aku. Ketika itu datanglah seorang berjubah dengan mengendarai seekor kuda memberikan sebilah pedang kepadaku. Melihat hal ini si iblis mundur, tidak jadi menyerangku.
Ketiga kalinya aku melihat iblis duduk menjauh dariku sambil menaburkan tanah di kepalanya seraya berkata ” Aku putus asa terhadap dirimu wahai Abdul Qodir” maka aku jawab “Aku tetap curiga terhadapmu”. mendengar jawabanku ini iblis berkata ” ini lebih dahsyat daripada bala”……………..
Kemudian disingkapkan kepadaku berbagai jaring. ‘Apa ini?’ tanyaku. ‘ini’ jawab sebuah suara, ‘adalah jaring-jaring dunia yang menjerat orang-orang sepertimu ‘. Akupun berpaling dan melarikan diri darinya. Aku habiskan satu tahun untuk memeranginya hingga aku dapat lepas dari semua itu. Setelah itu disingkapkan kepadaku berbagai sebab yang berhubungan dengan diriku. ’Apa ini ?’. Tanyaku. ’ini adalah sebab musabab kemakhlukan yang berhubungan dengan dirimu, ’ jawab sebuah suara kepadaku. Akupun menghadapinya selama setahun sampai hatiku lepas dari semua itu ’.
Tahap selanjutnya disingkapkan kepadaku isi dadaku dan aku melihat hatiku tergantung kepada berbagai hubungan. Aku bertanya “apa ini?” suara tersebut menjawab ,’ini adalah kemauan dan plihanmu,’ Jawaban tersebut membuatku menghabiskan waktu setahun lainnya untuk memerangi hingga aku dapat lepas dari semua itu,’.
Berikutnya disingkapkan kepadaku jiwaku dan aku melihat berbagai penyakit masih bercokol, hawa nafsunya masih hidup dan setan yang ada di dalamnya masih bercokol, hawa nafsunya masih hidup dan setan yang ada di dalamnya masih melawan. Aku memerlukan setahun lainnya untuk memerangi semua itu hingga berbagai penyakit hati hilang., hawa nafsunya mati dan setan berhasil aku tundukkan. Dengan demikian segala sesuatu hanya untuk Allah semata’.
Pada tahap ini aku benar-benar sendiri, semua yang eksis aku tinggalkan di belakang dan aku tetap belum berhasil mencapai junjunganku. Aku seret diriku ke pintu tawakal agar dapat masuk menemuinya. Namun setibanya aku di pintu tersebut, aku mendapatkan kerumunan orang yang membuatku mundur. Begitu pula di pintu syukur, kekayaan, kedekatan, penyaksian (musayhadah) semuanya penuh dengan orang-orang. Akhirnya aku menyeret diriku ke pintu kefakiran. Aku dapati pintu tersebut kosong dari orang-orang, maka aku memasukinya dan mendapatkan di dalamnya berisi semua yang aku tinggalkan dan Harta Karun paling besar dan Kemuliaan Paling Agung (Allah SWT)”.
Syaikh Abu Muhammad Abdullah Al-Jaba’I menyatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berkata, “Suatu saat aku duduk di tengah padang pasir, sedang mengulang-ulang pelajaaran fiqih dalam keadaan kelaparan. Tiba-tiba muncul suara yang berkata kepadaku ,’ Mengapa Aku tidak melihatmu meminjam uang agar engkau dapat belajar fiqih –atau menuntut ilmu- (dengan tenang)’. ‘Bagaimana aku berhutang sedang aku tidak sanggup untuk melunasinya ‘. Jawabku. Kemudian suara tersebut berkata , ‘cari pinjaman dan kami yang akan membayarnya’.
Akupun pergi ke seorang penjual sayur dan berkata kepadanya, ‘maukah engkau bertransaksi kepadaku tapi dengan syarat jika aku dapat mengembaloikan apa yang aku pinjam maka aku akan mengembalikannya kepadamu . Namun jika aku mati dan tidak dapat mengembalikannya maka engkau menghalalkannya untukku. Yang aku minta adalah sepotong roti dan sedikit seledri ’. Penjual tersebut menangis mendengar permintaanku dan berkata, ’Sayyidi (tuanku), aku halalkan semuanya untukmu. Ambil saja yang engkau suka ’. Sejak saat itu aku selalu menerima sepotong roti dan seledri. Namun setelah hal tersebut berjalan beberapa lama mulai timbul perasaan tidak enak di hatiku karena ketidak mampuanku membayar si pedagang.
Sat itu sebuah suara berkata kepadaku, “Pergilah ke tempat A. dan bayarkan kepada pedagang tersebut apa yang engkau lihat di atas batu ’. Akupun ke tempat tersebut dan melihat sebongkah besar emas di atas batu yang kemuduan aku bayarkan kepada si pedagang “.
Dalam riwayat yang lain Syaikh Al-Jaba’I meriwayatkanbahwa Syaikh Abdul Qadir pernah berkata, “aku sedang bersama orang-orang belajar fiqih ketika suatu saat musim panen tiba. Oranag-orang tersebut biasanya pergi ke Rusytaq untuk meminta sedikit bagian dari panen. Pada suatu hari mereka akan pergi ke Ba’quba dan mengajakku. Akupun pergi bersama mereka.
Di Ba’quba tinggal seorang Shaleh bernama Ya’qubi. Ketika ia melihatku, dia berkata kepadaku, ’Murid Al-Haq (yang menginginkan Allah) dan orang-orang saleh tidak pernah meminta sesuatu kepada seseorang. ’beliau melarangku untuk meminta sesuatu kepada manusia. Dan sejak saat itu aku tidak pernah pergi ke tempat tersebut.”
http://hidangan-ilahi.blogspot.com/2010/01/meniti-jalan-ilahi.html
Secuil Tentang Syech Abdul Qadir (1)
Syaikh Abul hasan Al Jausaqi berkata,”Tuli telingaku dan buta mataku jika mendengar dan melihat orang seperti Syaikh Abdul Qadir”.
Syaikh Khalifah An-Nahri Al-Maliki murid Syaikh Abi Sa’id Al-Qailawi, ”Ketika aku melalui sesuatu negeri aku melihat seseorang duduk di udara. Akupun bertanya, dengan apa engkau mendapatkan anugerah seperti ini ?” Orang tersebut menjawab.”Ya Khalifah aku tundukkan hawa nafsuku dan aku tunggangi taqwa maka Allah mendudukkanku di udara”. Setelah itu aku mendatangi Syaikh Abdul Qadir dan mendapati beliau sedang duduk di kubah para wali dengan orang yang aku jumpai berada di depan beliau dengan sikap tawadhu’. Orang itu berbicara dan bertanya kepada sang Syaikh tentang persoalan ma’rifat dan hakikat yang tidak aku pahami. Setelah selesai aku berkata kepada pria tersebut,’ Sekarang aku bertemu kamu di sini’.
“Bukankah seluruh wali Allah selalu berkunjung ke mari “. Jawabnya.
“Semua yang kamu bicarakan dengan sang Syaikh tidak ada yang aku pahami”. Kataku,
Ia menjawab, “Disetiap maqam ada hukum tersendiri yang juga mempunyai makna sendiri yang diinterpretasikan dengan melalui ibarah yang sesuai dengannya. Sebuah ibarah tidak akan dapat dipahami kecuali dengan memahami maknanya. Makna tersebut juga tidak dapat dipahami kecuali mereka yang telah mendapatkan hikmah yang tidak akan terealisasikan kecuali mereka yang telah mencapai maqam yang ditunjukkan”.
Kemudian aku kembali bertanya kepadanya, “Aku tidak pernah melihat ada yang bersikap sedemikian tawadhu’ seperti yang engkau lakukan dihadapan Syaikh Abdul Qadir”.
Ia menajwab, “Bagaimana aku tidak bersikap tawadhu’ kepada beliau yang telah memberikan jabatan kepadaku jabatan (wilaayah) dan otoritas ....
Beliau mengangkatku sebagai ketua dan memberikan otoritas untuk mengatur seratus orang (rijal al-ghaib) yang tinggal di udara. Mereka titdak dapat dilihat kecuali oleh orang-orang yang diikehendaki oleh Allah SWT. Firman Allah SWT, “Dan tidaklah kami (jibril) turun dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya.) (QS. Maryam 24).
Syaikh Khalifah di atas juga mengatakan bahwa semua rahasia dan urusan para wali selalu merujuk kepada Syaikh Abdul Qadir. Karisma diri dan pandangan beliau membuat penduduk satu daerah yang dipandangnya-di barat maupun di timur- akan merasa segan. Dengan pandangan berkah beliau mereka mengharapkan tambahan terhadap kondisi mereka dan mereka sangat takut akan diturunkannya kondisi mereka karena pandangan sang Syaikh.
Syaikh Baqa’ bin Bathu’ An-Nahri Al-Maliki mengatakan bahwa pada suatu ketika syaikh AbduLlah bersama seorang pemuda menghadap Syaikh Abdul Qadir. “Ya Syaikh doakanlah anakku ini”. Pintanya kepada Syaikh Abdul Qadir. Padahal anak tersebut sebenarnya bukanlah anaknya, namun anak hasil zina.
“Sampai sedemikian inikah perlakuanmu terhadapku ?”. Kata Syaikh Abdul Qadir dengan gusar. Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Seketika itu pula terjadi kebakaran di berbagai tempat di Baghdad. Setiap kali api berhasil dipadamkan di satu tempat, kebakaran kembali terjadi di tempat lain. Ketika itu aku melihat bala diturunkan di atas Baghdad bak awan dan semua itu karena kegusaran Syaikh Abdul Qadir.
Aku segera menemui beliau yang sedang duduk di dalam rumahnya dalam keadaan marah. Aku berkata kepadanya, “Tuanku, kasihanilah makhluk. Orang-orang telah mendapatkan celaka”. Seketika itu kemarahannya reda, dan seiring dengan redanya kemarahan beliau, kebakaran yang terjadi seluruhnya padam.
“Bukankah seluruh wali Allah selalu berkunjung ke mari “. Jawabnya.
“Semua yang kamu bicarakan dengan sang Syaikh tidak ada yang aku pahami”. Kataku,
Ia menjawab, “Disetiap maqam ada hukum tersendiri yang juga mempunyai makna sendiri yang diinterpretasikan dengan melalui ibarah yang sesuai dengannya. Sebuah ibarah tidak akan dapat dipahami kecuali dengan memahami maknanya. Makna tersebut juga tidak dapat dipahami kecuali mereka yang telah mendapatkan hikmah yang tidak akan terealisasikan kecuali mereka yang telah mencapai maqam yang ditunjukkan”.
Kemudian aku kembali bertanya kepadanya, “Aku tidak pernah melihat ada yang bersikap sedemikian tawadhu’ seperti yang engkau lakukan dihadapan Syaikh Abdul Qadir”.
Ia menajwab, “Bagaimana aku tidak bersikap tawadhu’ kepada beliau yang telah memberikan jabatan kepadaku jabatan (wilaayah) dan otoritas ....
Beliau mengangkatku sebagai ketua dan memberikan otoritas untuk mengatur seratus orang (rijal al-ghaib) yang tinggal di udara. Mereka titdak dapat dilihat kecuali oleh orang-orang yang diikehendaki oleh Allah SWT. Firman Allah SWT, “Dan tidaklah kami (jibril) turun dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya.) (QS. Maryam 24).
Syaikh Khalifah di atas juga mengatakan bahwa semua rahasia dan urusan para wali selalu merujuk kepada Syaikh Abdul Qadir. Karisma diri dan pandangan beliau membuat penduduk satu daerah yang dipandangnya-di barat maupun di timur- akan merasa segan. Dengan pandangan berkah beliau mereka mengharapkan tambahan terhadap kondisi mereka dan mereka sangat takut akan diturunkannya kondisi mereka karena pandangan sang Syaikh.
Syaikh Baqa’ bin Bathu’ An-Nahri Al-Maliki mengatakan bahwa pada suatu ketika syaikh AbduLlah bersama seorang pemuda menghadap Syaikh Abdul Qadir. “Ya Syaikh doakanlah anakku ini”. Pintanya kepada Syaikh Abdul Qadir. Padahal anak tersebut sebenarnya bukanlah anaknya, namun anak hasil zina.
“Sampai sedemikian inikah perlakuanmu terhadapku ?”. Kata Syaikh Abdul Qadir dengan gusar. Kemudian beliau bangkit dan masuk ke dalam rumahnya. Seketika itu pula terjadi kebakaran di berbagai tempat di Baghdad. Setiap kali api berhasil dipadamkan di satu tempat, kebakaran kembali terjadi di tempat lain. Ketika itu aku melihat bala diturunkan di atas Baghdad bak awan dan semua itu karena kegusaran Syaikh Abdul Qadir.
Aku segera menemui beliau yang sedang duduk di dalam rumahnya dalam keadaan marah. Aku berkata kepadanya, “Tuanku, kasihanilah makhluk. Orang-orang telah mendapatkan celaka”. Seketika itu kemarahannya reda, dan seiring dengan redanya kemarahan beliau, kebakaran yang terjadi seluruhnya padam.
http://hidangan-ilahi.blogspot.com/2010/01/bukankah-seluruh-wali-allah-selalu.html
Kamis, 13 Januari 2011
Seribu Hari
Ketika untuk terakhir kalinya aku melihatnya
Wajahnya yang tenang, ayu, dan damai
Engkau kembali kepada-Nya, Allah sang Maha Pencipta
Maha Pengasih dan Penyayang
Pada tanggal 19 April 2008 lalu....
Tiada terasa sudah seribu hari telah berlalu
Seribu hari hitungan alam dunia engkau melanjutkan perjalananmu
Engaku memenuhi panggilan Dia Yang Maha Sempurna
Yang Membalasi segala kebaikan dan Maha Pengampun.
Tak jarang ada rasa rindu, kangen dan sayang muncul di hatiku
Mengingatmu dengan segala kebaikanmu,
Kasih sayang dan semua pengorbananmu
Kebaikan dan ketulusanmu,
Bahkan terkadang kami mengingat kekuranganmu
Maka dengan kebaikanmu kami memintakan ampunan untukmu...
Disaat mengingat di hari keseribu ini,
Ingin rasanya hari ini semua kebaikanku hanya untukmu
Ingin rasanya melakukan sesuatu yg bisa menolongmu
Ingin rasanya menyertai langkahmu.....
............
Ya Allah Sang Pemilik maaf dan ampunan
Ampuni dia bundaku yg selalu memiliki sejuta maaf utkku
Sayangilah bundaku karena begitu sayangnya dia padaku
Ringankan langkah2nya disana karena sifatnya yg suka meringankan beban orang lain
Mudahkan dia melangkah di alam sana dengan pertolongan-Mu
Rahmatilah bundaku dengan sebaik2 rahmat-Mu
Kuatkan aku untuk bisa mendoakan bundaku........
Bunda, jika sekiranya engkau melihatku saat ini adalah kebaikan,
Maka doakan aku agar aku bisa istiqomah
Bunda, sampaikan salamku untuk Rasulullah
jika suatu waktu engkau berjumpa Beliau
Sampaikan juga salamku buat para sahabat Beliau
Sampaikan juga salamku buat para mukminin dan mukminat disana
Aku berdoa dan berharap
Nanti disuatu waktu aku adalah temanmu dan tetangga para mukmin
Ya Allah...Engkau Yang Maha tau, betapa kumencintai bundaku
Maka, kabulkanlah doaku....
Mengingat 'Seribu Hari' Bundaku Dewi Insasi
13 January 2011
Wajahnya yang tenang, ayu, dan damai
Engkau kembali kepada-Nya, Allah sang Maha Pencipta
Maha Pengasih dan Penyayang
Pada tanggal 19 April 2008 lalu....
Tiada terasa sudah seribu hari telah berlalu
Seribu hari hitungan alam dunia engkau melanjutkan perjalananmu
Engaku memenuhi panggilan Dia Yang Maha Sempurna
Yang Membalasi segala kebaikan dan Maha Pengampun.
Tak jarang ada rasa rindu, kangen dan sayang muncul di hatiku
Mengingatmu dengan segala kebaikanmu,
Kasih sayang dan semua pengorbananmu
Kebaikan dan ketulusanmu,
Bahkan terkadang kami mengingat kekuranganmu
Maka dengan kebaikanmu kami memintakan ampunan untukmu...
Disaat mengingat di hari keseribu ini,
Ingin rasanya hari ini semua kebaikanku hanya untukmu
Ingin rasanya melakukan sesuatu yg bisa menolongmu
Ingin rasanya menyertai langkahmu.....
............
Ya Allah Sang Pemilik maaf dan ampunan
Ampuni dia bundaku yg selalu memiliki sejuta maaf utkku
Sayangilah bundaku karena begitu sayangnya dia padaku
Ringankan langkah2nya disana karena sifatnya yg suka meringankan beban orang lain
Mudahkan dia melangkah di alam sana dengan pertolongan-Mu
Rahmatilah bundaku dengan sebaik2 rahmat-Mu
Kuatkan aku untuk bisa mendoakan bundaku........
Bunda, jika sekiranya engkau melihatku saat ini adalah kebaikan,
Maka doakan aku agar aku bisa istiqomah
Bunda, sampaikan salamku untuk Rasulullah
jika suatu waktu engkau berjumpa Beliau
Sampaikan juga salamku buat para sahabat Beliau
Sampaikan juga salamku buat para mukminin dan mukminat disana
Aku berdoa dan berharap
Nanti disuatu waktu aku adalah temanmu dan tetangga para mukmin
Ya Allah...Engkau Yang Maha tau, betapa kumencintai bundaku
Maka, kabulkanlah doaku....
Mengingat 'Seribu Hari' Bundaku Dewi Insasi
13 January 2011
Rabu, 12 Januari 2011
Seri Belajar Membaca Risalatul Qusyairiyah ( 4 )
MENGUMPAT
Allah SWT berfirman, “Dan janganlah sebagian diantara kamu mengumpat yang lain, senaNgkah salah seorang diantara kamu sekalian memakan daging saudaranya yang telah mati (bangkai) ? Maka tentu kamu sekalian tidak menyukainya”. (QS. Al Hujarat 12).
Dari Abu Hurairah RA diceritakan, “Seorang laki-laki berdiri bersama RasuluLlah SAW yang sebelumnya dia duduk. Sebagian kaum mengatakan, “Alangkah lemahnya si fulan”. Setelah itu RasuluLlah SAW berkata, “Engkau telah memakan saudaramu dan engkau telah mengumpatnya”.
Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS, “Barang siapa meninggal dunia dan bertobat dari umpatan, maka dia adalah orang yang terakhir masuk surga. Barang siapa meninggal dunia dan selalu mengumpat maka dia adalah orang yang pertama masuk neraka”.
‘Auf mengatakan, “Saya bertemu dengan Ibnu Sirrin kemudian saya mengumpat Hajjaj. Seketika itu Ibnu Sirrin mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Maha Bijaksana dan Maha Adil. Apabila engkau bertemu dengan Allah Swt di hari kiyamat, maka dosa yang paling kecil akan menjadi lebih besar daripada dosa yang paling besar yang engkau timpakan kepada Hajjaj’”.
Menurut satu cerita, Ibrahim bin Adham pernah diundang dan ia menghadirinya. Mereka yang hadir menyebut yang tidak hadir. Mereka mengatakan, “Orang yang tidak hadir itu adalah Tsuqail “. Ibrahim mengtakan, “Inilah diriku yang telah membuatku demikian. Apabila saya menghadiri suatu tempat, orang-orang akan mengumpat”. Setelah itu dia keluar dan tidak mau makan selama tiga hari. Menurut satu pendapat, perumpamaan orang yang mengumpat adalah seperti orang yang meluruskan senjata manjanik (alat pelempar yang diberi peluru panah api). Kebaikannya ia lempar ke arah timur dan barat. Dia mengumpat orang khurasan, Hijas, dan turki. Kebaikannya ia pisah kemudian dia luruskan sehingga tidak ada sedikitpun yang tersisa di pangkuannya. Manurut yang lain, catatan buku perbuatan seorang hamba akan didatangkan di hari kiyamat. Dia tidak melihat kebaikannya, seraya berkata, “Di mana salatku, puasaku, dan taatku”. Dijawab, “Semua perbuatan baikmu telah hilang karena engkau mengumpat orang lain”. Sedangkan yang lain berpendapat, barang siapa diumpat orang lain maka Allah Ta’ala akan mengampuni separuh dosa-dosanya”.
Sufyan bin Husain duduk di hadapan Iyas bin Mu’awiyah lantas ia mengumpat seseorang.
“Apakah engkau berperang melawan orang turki atau romawi ?”tanya Iyas.
“Tidak”. Jawab Sufyan.
“Orang-orang Turki dan Romawi telah selamat darimu”. Jawab Iyas kemudian.
Menurut satu pendapat, catatan buku perbuatan seseorang akan diberikan. Dia akan melihat kebaikan yang belum pernah ia kerjakan. Setelah itu ia diberitahu, ini adalah perbuatan baikmu karena engkau telah diumpat oleh orang lain sedangkan engkau tidak merasa.
Sufyan Ats-Tsauri pernah ditanya tentang sabda RasuluLlah SAW “Sesungguhnya Allah membenci ahli rumah yang suka makan daging”.
Dia menjawab, “Orang-orang yang mengumpat orang lain adalah orang-orang yang makan daging mereka”.
Persoalan umpatan pernah diutarakan di hadapan AbduLlah bin Mubarak, dia mengatakakn, “Seandainya saya disuruh mengumpat seseorang maka pasti saya akan mengumpat kedua orang tuaku karena mereka lebih berhak kepada kebaikanku”.
Menurut Yahya bin Mu’adz, orang mukmin mempunyai bagian darimu dalam tiga hal. Pertama jika engkau tidak memberikan pertolongan, maka jangan memberikan bahaya. Kedua, jika engkau tidak merahasiakan, maka janganlah mengumpat. Ketiga, jika engkau tidak memuji, maka jangan mencela”. Hasan Al-Bashri pernah diberi kabar bahwa fulan telah mengumpatnya. Maka setelah itu Hasan mengirimkan kue yang tertutup kepadanya. Hasan mengatakan kepadanya, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa engkau menghadiahkan kebaikan kepadaku . oleh karena itu saya memberikan imbalan kepadamu”.
Dari Anas bin Malik diceritakan bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Barang siapa yang tidak mempermalukan orang lain dari wajahnya maka dia tidak termasuk orang yang mengumpat”.
Al Junaid mengatakan, “Saya duduk di masjid Syuniziyah menunggu jenasah yang akan disalatkan. Demikian pula orang-orang Baghdad, tetapi mereka duduk berdasarkan kedudukan mereka. Setelah itu saya melihat orang fakir yang tampak bekas-bekas ibadahnya. Dia mengemis kepada orang lain. Saya bergumam dalam hati, seandainya orang fakir itu berhias diri, tentu ia akan lebih tampan. Setelah itu aku pulang ke rumah. Pada waktu malam di hadapanku terdengar suara wirid berupa tangisan, salat dan lain-lainnya. Wirid itu dapat menundukkan semua wiridku . ketika itu saya dalam keadaan diantara bangun dan duduk akan tetapi sangat mengantuk sehingga saya tertidur. Dalam tidurku aku melihat si orang fakir tadi dipanggul oleh beberapa orang dan diletakkan di atas singgasana yang luas. Mereka mengatakan kepadaku, “Makanlah dagingnya karena engkau telah mengumpatnya.” Saya teringat akan peristiwa itu. Saya mengatakan, ‘Engkau tidak termasuk orang yang direlakan dengan sesamanya.’ Oleh karena itu pergilah dan mintalah maaf kepadanya’. Saya sangat kebingunan. Suatu saat saya dapat melihatnya di suatu tempat yang apabila air mengalir ia dapat memperoleh daun-daun yang telah dipotong dari pohon ketika disiram. Setelah itu saya menmgucapkan salam kepadanya. Dia bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau masih membiasakan diri mengumpat ?’ Saya menjawab, ‘Tidak’. Dia mengatakan, ‘Mudah-mudahan Allah SAW mengampuni kita’.
Seri Belajar Membaca Risalatul Qusyairiyah ( 3 )
DIAM
Dari Abu Hurairah RA diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam”.
Uqbah bin Amir menceritakan, “saya bertanya kepada Rasulullah SAW “Apakah keselamatan itu?”, Beliau menjawab, “Jagalah lisan engkau, perluaslah rumahmu , dan menangislah akan dosa-dosamu.
Diam adalah pondasi keselamatan dan merupakan sikap penyesalan terhadap berbagai celaan. Oleh karena itu kewajiban diam ditetapkan oleh syara’, perintah dan larangan. Sedangkan diam pada saat-saat tertentu adalah sifat pemimpin, sebagaimana ungkapan bahwa berbicara pada tempatnya termasuk perilaku yang baik.
Saya (Imam Al-Qusyairi) telah mendengar ustadz Abu Ali Ad-Daqaaq berkata, “Barang siapa yang mendiamkan kebenaran, maka ia ibarat setan yang bisu”. Sikap diam sambil memperhatikan, merupakan bagian dari perilaku orang-orang yang baik. Allah SWT berfirman, [QS. Al-A’raaf]: 204. “Apabila dibacakan Al-Qur’an maka hendaklah didengarkan dan diperhatikan agar kamu sekalian mendapat rahmat.”
Allah SWT dalam ayat yang lain berfirman, yang mengabarkan kepada jin atas kehadian RasuluLlah SAW, [QS. Al Achqaaf]: 29.“Tatkala mereka hadir, mereka berkata kepada sesamanya, diamlah (perhatikanlah)”.
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman, [QS. Thaha]: 108 “Sunyi senyaplah suara karena takut kepada Yang Maha Pengasih sehingga tiada engkau dengar kecuali suara halus”.
Diam terbagi menjadi dua, yaitu diam secara lahir dan diam secara bathin. Orang yang bertawakal hatinya selalu diam dengan meninggalkan berbagai tuntutan ekonomi. Sedangkan orang yang berma’rifat hatinya akan selalu diam (tenang) dengan mempertemukan ketetapan hukum melaui sikap yang baik. Oleh karena itu perbuatan yang baik adalah yang dapat dipercaya, sedangkan ketetapan yang baik adalah hal yang dapat diterima.
Terkadang yang menyebabkan diam adalah heran. Apabila pengetahuan tentang sifat yang mengejutkan telah muncul, maka ungkapan yang mengandung pelajaran akan menjadi tumpul, tak ada keterangan dan pemikiran. Oleh karena itu tempat-tempat pertemuan akan menjadi sirna , tidak ada ilmu dan perasaan. Allah SWT berfirman,[QS. Al Maaidah]: 109 “(Ingtalah) di hari waktu Allah mengumpulkan para Rasul, kemudian Allah bertanya, “Apa jawaban kaummu terhadap seruanmu?” Para Rasul menjawab, “Tidak ada pengetahuan bagi kami tentang itu”.
Jika mereka mengetahui apa yang terkandung di dalam pembicaraan merupakan hal-hal yang negatif, dan merupakan bagian dari hawa nafsu, memperlihatkan sifat-sifat terpuji, suka membedakan berbagai kesulitan dengan sikap yang baik, dan mengetahui berbagai hal negatif lainnya, maka mereka mempunyai sifat yang sama dengan orang-orang yang terlatih. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan pondasi mereka untuk menghindarkan diri dan menyantuni orang lain.
Dalam suatu cerita, Dawud At-Thaa’I ketika hendak memasuki rumahnya, dia berbalik (bermaksud) mengadiri tempat pengajian yang disampaikan oleh Abu Hanifah karena dia seorang muridnya. Ketika dirinya telah kuat dan mampu melaksanakan perilaku tersebut selama satu tahun, dia lebih senang duduk di rumahnya dan mengutamakan uzlah.
Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Bisyir bin Harits menatakan, “Jika bicaramu membuatmu kagum maka diamlah. Jika diammu membuatmu kagum maka bicaralah. “ Menurut Sahal bin Abdullah, tidak dibenarkan seseorang diam sehingga dia berkhalwat. Dan tidak dibenarkan seseorang bertobat sehingga dia diam. Abu Bakar Al-Farisi berkata, “Barang siapa yang tidak membiasakan diri diam, maka segala urusannya akan sia-sia meskipun dia adalah orang yang diam. Diam tidak hanya terbatas pada mulut tetapi juga pada hati dan seluruh anggota tubuh. Sebagian ulama berkata, “Barang siapa yang tidak mampu menahan diam maka bicaranya akan sia-sia”.
Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) mendengar Mimsyad Ad-Dinawari berkata, “Ahli hikmah akan mewariskan ilmu hikmahnya dengan diam dan akal pikiran”. Abu Bakar AL-Farisi pernah ditanya tentang diamnya hati, dia menjawab, “Meninggalkan kesibukan masa yang telah lampau dan masa yang akan datang”. Menurutnya, jika seseorang yang pembicaraannya ditentukan dan dia harus berbicara, maka hendaknya dia membatasi diam.
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA dia berkata, “Berbicaralah dengan orang lain seminimal mungkin dan berbicaralah dengan Tuhanmu sebanyak mungkin, agar hatimu dapat melihat Tuhan”.
Dzunun pernah ditanya oleh seseorang, “Siapa orang yang paling mampu menjaga diri ?”
“Orang yang betul-betul menjaga mulutnya”. Jawabnya
Menurut Ali bin Bakar, Allah SWT menjadikan segala sesuatu dua pintu dan menjadikan mulut empat pintu. Dua bibir mempunyai dua daun pintu, dan beberapa gigi juga mempunya dua daun pintu
Menurut suatu riwayat, Abu Bakar As-Shiddiq meletakkkan batu kecil di dalam mulut beliau agar bicaranya dapat diminimalkan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Hamzah Al-Baghdadi adalah orang yang bicaranya baik. Suatu saat hatif berkata kepadanya, “Engkau telah berbicara dengan baik tetapi diam tentu lebih baik”. Setelah itu dia tidak pernah berbicara sampai dia meninggal dunia.
Imam Asy-Syibli apabila menyampaikan materi kajiannya, tak seorangpun yang hadir akan bertanya. Beliau berkata dengan mengutip firman Allah SWT [QS. An-Naml]: 85 “Perkataan (janji Allah) kepada mereka telah tiba karena mereka aniaya. Sedangkan mereka tidak dapat bercakap-cakap”.
Diam terkadang juga terjadi bagi orang yang berbicara karena diantara kaum ada orang yang lebih baik bicaranya.
Saya (Syaikh Abul Qasim Al Qusyairy RA) telah mendengar Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Suatu saat saya tidak bisa menghadiri pengajian di Murwa karena ada halangan. Untuk pulang ke Nisabur, saya merasa berat karena sudah menempuh separuh perjalanan. Ketika tidur saya bermimpi bertemu dengan seseorang. Dia berkata kepadaku, ‘jangan bersikeras keluar dari kota ini karena sekelompok jin sangat ingin mendengarkan pidatomu dan mereka telah hadir di tempat pengajianmu. Oleh karena itu alangkah baiknya jika engkau menyampaikan materi pengajian”’.
Sebagian ahli hikmah telah berkata, “Manusia diciptakan Allah SWT dengan mempunyai satu mulut, dua mata dan dua telinga agar dia dapat mendengar dan melihat lebih banyak dari apa yang dia katakan”.
Ibrahim bin Adham pernah diundang. Ketika dia sedang duduk, orang-orang yang hadir mengumpat. Dia berkata dengan bahasa ironi, “Disamping kita terdapat orang yang memakan daging sesudah makan roti. Sedangkan kamu sekalian memulai dengan makan daging”. Dia mengutip firman Allah [QS. Al-Hujarat]: 12 “Apakah diantara kamu sekalian suka makan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentu kamu akan benci memakannya”..
Menurut ahli hikmah, diam adalah mulut orang yang bijaksana. Menurut sebagian yang lain, belajar diam sama halnya dengan belajar bicara. Belajar bicara akan memberikan petunjuk, dan belajar diam akan menjaganya. Menurut suatu pendapat, keselamatan mulut adalah diam. Sebagian lain juga berpendapat, perumpamaan mulut adalah seperti hewan buas, apabila tidak diikat, ia akan menganiaya.
Abu Hafs pernah ditanya, “Bagi seorang wali, keadaan apa yang lebih utama?” Dia menjawab, “Seandainya orang yang berbicara mengetahui resiko pembicaraan, dia pasti akan diam. Dan seandainya dia mengetahui resiko diam, dia pasti akan terus menerus memohon kepada Allah SWT agar dipanjankan umurnya seperti Nabi Nuh AS sehingga dia dapat berkata, “agar dia mendapat petunjuk menuju kebaikan”.
Menurut satu pendapat, puasa orang awam dengan mulut, puasa orang ma’rifat dengan hati. Dan puasa orang yang cinta kepada Allah dengan ketinggian rahasia akal pikiran.
Sebagian ulama berkata, “Saya mengekang mulutku selama 30 tahun sehingga tak pernah mendengar sesuatu kecuali yang keluar dari hatiku. Setelah itu saya mengekang hatiku selama 30 tahun sehingga aku tidak pernah mendengar sesuatu selain yang keluar dari mulutku”. Menurut ungkapan sebagian ulama yang lain, seandaninya mulutmu tidak dapat berbicara, engkau tak akan lepas dari ucapan hati. Seandainya engkau menjadi orang yang buruk, engkau tidak akan lepas dari ucapan diri sendiri. Dan seandainya engkau berusaha secara optimal, jiwamu tidak akan berbicara denganmu karena ia menyimpan rahasia yang tersembunyi”.
Menurut suatu pendapat, orang yang bodoh adalah kunci kematian. Menurut yang lain, orang yang cinta kepada Allah SWT, jika tidak berbicara dia akan kuat. Fudhail bin Iyadh berkata, “Barang siapa yang bicaranya lebih banyak dari pada perbuatannya, maka inti bicaranya adalah sedikit kecuali ucapan yang dibutuhkan”.
Langganan:
Postingan (Atom)





