Minggu, 09 Januari 2011

Takutnya Para al- Mukmin ( 4 )

Malik bin Dinar berkata, “sewaktu aku bertawaf mengelilingi BaituLlah tiba-tiba aku dekat seorang anak perempuan yang kuat beribadah. Ia bergantung pada tirai Ka’bah dan berdo’a : “Hai Tuhanku, banyaklah nafsu keinginan yang telah hilang kelezatannya dan tinggal ikutannya. Hai Tuhanku, apakah tidak ada bagi Engkau pelajaran dan siksaan selain neraka ?”. Dia menangis dan senantiasalah ia demikian di tempatnya berdiri sehingga terbit fajar”.
Malik berkata, “Maka tatkala aku melihat yang demikian lalu aku letakkan tanganku ke atas kepalaku dan dengan menjerit aku berkata, “Ditiadakan Malik oleh Ibunya”.
Diriwayatkan bahwa Al-Fudhail dilihat orang pada hari arafah (9 Dzulhijjah) dan orang banyak itu berdoa sedangkan Al-Fudhail itu menangis seperti tangisan seorang wanita yang kehilangan anak yang menghadapi kebakaran sehingga apabila matahari hampir terbenam maka Al-Fudhail menggenggam janggutnya kemudian mengangkat kepalanya memandang ke langit dan berdoa “Demi kejahatanku kepada Engkau, dan kalau kiranya Engkau ampunkan”. Kemudian ia berbalik bersama manusia ramai.
Ditanyakan kepada Ibnu Abbas perihal orang-orang yang takut maka beliau menjawab, “Hati mereka luka disebabkan takut itu, dan mata mereka menangis. Mereka mengatakan ‘bagaimana kami bergembira sedangkan mati itu di belakang kami dan kubur itu di depan kami, hari kiyamat itu janjian bagi kami, di atas neraka jahanam itu jalanan kami, dan di hadapan الله Tuhan kami tempat pemberhentian kami’”.
Al-Hasan Al-Bashri melewati seorang pemuda dan pemuda itu tengah tenggelam dalam ketawanya. Dia duduk bersama orang banyak di dalam suatu majlis lalu Al-Hasan berkata kepadanya, “hai anak muda, adakah engkau pasti selamat melalui titian ?”
Anak muda itu menjawab, “Tidak”.
Al-hasan bertanya lagi, “Adakah engkau ketahui bahwa engkau berkesudahan ke surga atau ke neraka ?”
Anak muda itu menjawab, “Tidak”.
Al-Hasan bertanya pula, ‘Maka Ketawa apakah ini ?”
Maka anak muda itu tidak terlihat tertawa lagi sesudah itu.

Adalah Ahmad bin AbduRrabbih apabila ia duduk maka ia duduk dengan tidak tenang di atas kedua telapak kakinya, lalu ditanyakan kepadanya, “bilamana engkau dapat duduk dengan tenang ?”
Maka beliau menjawab, “Itu duduk orang yang merasa aman, dan aku tidak merasa aman karena aku berbuat maksiyat kepada الله تعالى.”

Takutnya Para al- Mukmin ( 3 )

Abu Ubaidah bin Al-jarrah berkata, “Aku ingin bahwa aku ini Kibasy (biri-biri) sehingga aku disembelih oleh keluargaku, mereka memakan dagingku dan merasakan kuahku”.
Adalah Ali Bin Husain Ra, apabila mengambil air wudhu maka wajahnya pucat. Keluarganya bertanya kepadanya, “Kebiasaan apakah ini ketika engkau mengambil wudhu ?”
Beliau menjawab, “Apakah kamu tahu di hadapanku yang aku hendak berdiri karenanya ?”
Musa bin Mas’ud berkata, “Adalah kami apabila kami duduk berhadapan dengan Ats-Tsauri, niscaya seakan-akan api telah mengelilingi kami karena kami melihat dari ketakutan dan kegundahannya”.

Mudlar Al_Qari pada suatu hari memabca :
هذاكتبنا ينطق عليكم بالحق , انا كنا نستنسخ ما كنتم تعملون
Inilah kitab catatan Kami yang mengatakan kepadamu menurut yang sebenarnya. Sesungguhnya Kami menyuruh menuliskan segala apa yang kamu kerjakan (Al-Jasiyah 29)
Maka Abdul Wahid bin Zaid menangis sehingga pingsan. Maka tatkala telah sembuh beliau berkata, “Demi keagungan Engkau, aku tiada mendurhakai Engkau oleh tenagaku untuk selama-lamanya. Maka tolonglah aku dengan taufik Engkau kepada menta’ati Engkau”.
Adalah Al-Musawwar bin Makhzamah tidak kuat untuk mendengar sesuatu dari Al-Qur’an karena sangat takutnya. Sesungguhnya dibacakan kepadanya satu huruf dan ayat lalu ia memekik dengan suatu pekikan keras sehingga ia tidak dapat berfikir untuk beberapa hari. Maka datanglah kepadanya seorang laki-laki dari Khats’am kemudian orang itu membacakan kepadanya :
يوم نخشر المتقين الى الرحمن وفدا . ونسوق المجرمين الى جهنم وردا
Di hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Kami halau orang-orang yang durhaka kepada neraka jahanam secara kasar.
Lalu AL musawwar berkata, “Aku termasuk orang-orang yang berbuat kesalahan dan tidaklah aku termasuk orang-orang tang bertaqwa. Ulangilah bacaan itu hai qari’.” Lalu diulanginya maka pingsanlah Al-Musawwar sehingga ia meninggal dunia (kembali ke akhirat).
Dibacakan kepada Yahya Al-Bakka’ (orang yang mudah menangis).
ولو ترى اذ وقفوا على ربهم
Dan kalau engkau lihat ketika mereka ditegakkan di hadapan Tuhan. (Al-Anaam 30).
Maka Yahya memekik dengan pekikan yang keras yang dia berhenti dari pekikan itu karena sakit selama empat bulan. Ia dikunjungi orang dari seluruh kota Basrah.




Takutnya Para al- Mukmin ( 2 )

Abu Ubaidah bin Al-jarrah berkata, “Aku ingin bahwa aku ini Kibasy (biri-biri) sehingga aku disembelih oleh keluargaku, mereka memakan dagingku dan merasakan kuahku”.
Adalah Ali Bin Husain Ra, apabila mengambil air wudhu maka wajahnya pucat. Keluarganya bertanya kepadanya, “Kebiasaan apakah ini ketika engkau mengambil wudhu ?”
Beliau menjawab, “Apakah kamu tahu di hadapanku yang aku hendak berdiri karenanya ?”
Musa bin Mas’ud berkata, “Adalah kami apabila kami duduk berhadapan dengan Ats-Tsauri, niscaya seakan-akan api telah mengelilingi kami karena kami melihat dari ketakutan dan kegundahannya”.

Mudlar Al_Qari pada suatu hari memabca :
هذاكتبنا ينطق عليكم بالحق , انا كنا نستنسخ ما كنتم تعملون
Inilah kitab catatan Kami yang mengatakan kepadamu menurut yang sebenarnya. Sesungguhnya Kami menyuruh menuliskan segala apa yang kamu kerjakan (Al-Jasiyah 29)
Maka Abdul Wahid bin Zaid menangis sehingga pingsan. Maka tatkala telah sembuh beliau berkata, “Demi keagungan Engkau, aku tiada mendurhakai Engkau oleh tenagaku untuk selama-lamanya. Maka tolonglah aku dengan taufik Engkau kepada menta’ati Engkau”.
Adalah Al-Musawwar bin Makhzamah tidak kuat untuk mendengar sesuatu dari Al-Qur’an karena sangat takutnya. Sesungguhnya dibacakan kepadanya satu huruf dan ayat lalu ia memekik dengan suatu pekikan keras sehingga ia tidak dapat berfikir untuk beberapa hari. Maka datanglah kepadanya seorang laki-laki dari Khats’am kemudian orang itu membacakan kepadanya :
يوم نخشر المتقين الى الرحمن وفدا . ونسوق المجرمين الى جهنم وردا
Di hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Kami halau orang-orang yang durhaka kepada neraka jahanam secara kasar.
Lalu AL musawwar berkata, “Aku termasuk orang-orang yang berbuat kesalahan dan tidaklah aku termasuk orang-orang tang bertaqwa. Ulangilah bacaan itu hai qari’.” Lalu diulanginya maka pingsanlah Al-Musawwar sehingga ia meninggal dunia (kembali ke akhirat).
Dibacakan kepada Yahya Al-Bakka’ (orang yang mudah menangis).
ولو ترى اذ وقفوا على ربهم
Dan kalau engkau lihat ketika mereka ditegakkan di hadapan Tuhan. (Al-Anaam 30).
Maka Yahya memekik dengan pekikan yang keras yang dia berhenti dari pekikan itu karena sakit selama empat bulan. Ia dikunjungi orang dari seluruh kota Basrah.
Malik bin Dinar berkata, “sewaktu aku bertawaf mengelilingi BaituLlah tiba-tiba aku dekat seorang anak perempuan yang kuat beribadah. Ia bergantung pada tirai Ka’bah dan berdo’a : “Hai Tuhanku, banyaklah nafsu keinginan yang telah hilang kelezatannya dan tinggal ikutannya. Hai Tuhanku, apakah tidak ada bagi Engkau pelajaran dan siksaan selain neraka ?”. Dia menangis dan senantiasalah ia demikian di tempatnya berdiri sehingga terbit fajar”.
Malik berkata, “Maka tatkala aku melihat yang demikian lalu aku letakkan tanganku ke atas kepalaku dan dengan menjerit aku berkata, “Ditiadakan Malik oleh Ibunya”.

Takutnya Para al- Mukmin ( 1 )


Diriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Shidiq berkata kepada burung, “Kiranya aku seperti engkau, wahai burung, dan aku tidak dijadikan manusia”.
Abu Dzar RA berkata, “Aku ingin jikalau aku ini hanyalah sebatang pohon kayu yang ditolong orang”. Begitu juga kata Thalhah.
Utsman berkata,”Aku ingin bahwa aku jika mati maka aku tidak dibangkitkan.
‘Aisyah RA berkata, “aku menginginkan bahwa aku ini dilupakan orang”.
Diriwayatkan bahwa Umar RA jatuh pingsan karena ketakutan apabila mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Maka ia dikunjungi hingga beberapa hari. Dan pada suatu hari ia mengambil sepotong jerami dan tanah lalu mengatakan, “kiranya aku adalah jerami ini. Kiranya tidaklah aku ini sesuatu yang disebutkan orang. Kiranya aku ini dilupakan orang. Kiranya aku ini tidak dilahirkan oleh ibuku”.
Adalah pada wajah Umar ada dua garis hitam dari sebab air mata. Dan beliau juga mengatakan, “barang siapa yang takut kepada الله niscaya ia tidak merasa sembuh kemarahan الله padanya. Siapa yang bertakwa kepada الله niscaya tidak akan diperbuatnya apa yang dikehendakinya. Dan kalaulah tidak karena hari kiyamat, niscaya الله lain dari apa yang kamu lihat.
Tatkala Umar membaca ayat :
اذاالشمس كورت واذاالنجوم انكدرت, واذاالجبال سيرت, واذاالعشار عطلت, واذاالوحوش حشرت, واذاالنفوس زووجت, واذاالموءودت سئلت, بأي ذنب قتلت واذاالصحف نشرت
Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, (At-Takwiir 1-10)
-Maka Umar RA jatuh pingsan.
Pada suatu hari Umar melintasi rumah seseorang yang sedang salat dengan membaca surat At-Thur ayat 1 lalu beliau berhenti dan mendengar. Tatkala sampai pada firman-Nya :
ان عذاب ربك لواقع . ما له من دافع
“Sesungguhnya Adzab Tuhanmu pasti akan datang, tiada seorangpun dapat menolaknya”.
Maka beliau turun dari keledainya dan bersandar ke dinding dan berhenti beberapa saat. Kemudian beliau kembali ke rumahnya lalu sakit selama sebulan yang dikunjungi oleh orang banyak sedang mereka tidak tahu apa sakitnya.
Ali RA berkata, dan beliau baru saja memberi salam ketika (selesai) shalat subuh dan telah meninggi kegundahan hatinya dan beliau membolak-balikkan tangannya, “Aku telah melihat para sahabat Muhammad SAW maka pada hari ini aku tiada melihat sesuatupun yang menyerupai dengan mereka. Sesungguhnya para sahabat itu di pagi hari dengan rambut yang kusut bermuka kuning pucat dan berdebu. Diantara mata mereka itu seperti lutut kambing (dari bekas sujud). Mereka pada malam hari bersujud dan menegakkan shalat karena الله. Mereka membaca kitab الله. Mereka bergoncang badannya seperti bergoncangnya kayu pada hari banyak angin. Dan berhamburan matanya dengan air mata sehingga basah kainnya. Demi الله maka seakan-akan aku dan mereka menjadi kaum yang lalai dari berdzikir kepada الله تعالى.”
Kemudian beliau bangun berdiri, maka sesudah itu tiada terlihat lagi hingga beliau dibunuh oleh Ibnu Muljam.


Permata, 10 January 2011 



http://hidangan-ilahi.blogspot.com/2009/12/penjelasan-keadaan-para-sahabat-tabiin.html





Seri Belajar Membaca Risalatul Qusyairiyah (2)

                                                  KHAUF

Allah SWT berfirman, "Mereka berdo’a kepada Tuhannya  karena takut dan harap”.[32] :16

Abu Hurairah berkata, Bahwa RasuluLlah SAW bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang yang menagis karena takut kepada Allah Ta’ala, sebelum ada air susu yang masuk pada teteknya. Dan tidaklah berkumpul debu-debu dalam perang membela agama di jalan Allah dengan asap api neraka jahanam di tempat sampah seorang hamba”.
 
 
      Anas berkata bahwa RasduluLlah SAW bersabda, “Seandainya engkau mengetahui apa-apa yang aku ketahui niscaya sedikit tertawa engkau, dan banyak menangis”.
Menurut pendapatku (Syaikh Abul Qasim Al-Qusyairy) takut mempunyai arti yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Karena orang akan takut menghalalkan yang makruh dan meninggalkan hal yang sunat. Hal ini tidak begitu penting kecuali membawa dampak positif di masa yang akan datang. Jika pada saat sekarang hal itu muncul, maka pengertian takut tidak terkait. Sedangkan pengertian takut kepada Allah Ta’ala adalah tekut kepada siksaanNya baik di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala mewajibkan kepada hambaNya agar takut kepadaNya, sebagai mana firmanNya,“dan takutlah kamu semua kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman”.[3]:75

 Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka kepadaKulah seharusnya mereka merasa takut”. khauf merupakan bagian dari syarat-syarat iman dan hUkum-hukumnya sebagaimana firmanNya,
 
      Khasyah merupakan bagian dari syarat-syarat ilmu sebagaimana firmanNya “sesungguhnya yang paling takut kepada Allah Ta’ala di antara hambanya adalah ‘ulama’. [35]:28
 
      Sedangkan haibah merupakan bagian dari syarat-syarat ma’rifat sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Allah SWT memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya.
Saya (Imam Al-Qusyairy) mendengar Abu Hafsh berkata, “Takut adalah cambuk Allah SWT yang dipergunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari dari pintuNya”.

Menurut Ibnu Al-jalla’, “Yang dimaksud orang yang takut adalah orang yang aman dari berbagai hal yang menakutkan”. Menurut satu pendapat, yang dimaksud orang yang takut adalah bukan orang yang menaangis dan mengusap kedua matanya, tetapi yang meninggalkan sesuatu karena takut disiksa”. Ibnu Iyadh telah ditanya oleh seseorang, “Mengapa saya tidak pernah melihat orang yang takut kepada Allah SWT ?” Dia menjawab,”Jika engkau takut kepada Allah SWT maka engkau akan melihat orang yang takut kepadaNya. Karena tidak ada orang yang dapat melihat orang yang takut kepada Allah SWT kecuali orang yang takut kepadanya. Sama halnya perempuan yang kehilangan anaknya akan melihat perempuan lain yang juga kehilangan anaknya”.

Abdul Qasim AL-Hakim, orang yang takut akan sesuatu maka ia akan lari darinya. Sedangkan orang yang takut kepada Allah SWT maka ia akan lari kepadaNya”.
Hatim Al-Asham, tiap sesuatu mempunyai  hiasan. Hiasan ibadah adalah takut , sedangkan indikasi takut adalah memperkecil keinginan.

Syaikh Abul Qasil Al-Qusyairy berkata, “Saya telah mendengar Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Saya pernah mendatangi Imam ABu Bakar bin Faruk. Ketika saya melihatnya, kedua matanya bercucuran air mata. Kukatakan kepadanya bahwa Allah akan menyelamatkan dan menyembuhkanmu. Ia menjawab, “Engkau tidak akan pernah melihatku takut mati, tetapi saya takut dibalik mati itu.”‘

Allah SWT juga berfirman, “Katakanlah, maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang perbuatannya merugi, yaitu orang-orang yang tersesat perjalanannya di dunia sedangkan mereka menduga bahwa mereka mengerjakan perbuatan yang baik” [18] :103-104

Hatim Al-Asham berkata, “Janganlah bersikap sombong karena memperoleh tempat yang baik. Tidak ada tempat yang lebih baik melebihi surga. Oleh karena itu wajar bagi Nabi Adam AS berjumpa dengan sesuatu yang pernah ia jumpai. Jangan sombong karena banyaknya ibadah, sebab iblis setelah lama beribadah ternyata mendapati sesuatu yang ia dapati. Jangan sombong karena banyaknya ilmu, sebab Bal’am yang selalu mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung ternyata ia mati kafir. Jangan sombong akrena dapat melihat orang-orang yang baik, karena tak seorangpun lebih hebat dari Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah mengambi keuntungan jika berjumpa dengan sanak famili  musuh-musuhnya”. 



Diriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata, “Saya memohon kepada Tuhan agar  dibukakan pintu dengan siakp takut sehingga ia dapat terbuka. Demikian pula aku takut dengan kekuatan akalku. Oleh karena itu saya juga memohon, Yaa Tuhan berilah saya kemampuan berdasarkan apa yang telah saya kuasai sehingga diriku menjadi tenang”.


Permata, 9 January 2011

Sabtu, 08 Januari 2011

Pelajaran Hakikat Rasulullah SAW

Rasulullah SAW terlambat hadir di masjid untuk mengimami salat subuh karena bermimpi mendapat pelajaran hakikat dari الله SWT.

Sejak azan subuh berkumandang sampai menjelang fajar, Rasulullah SAW belum muncul di masjid. Para sahabat menjadi gelisah. Beberapa sahabat diutus menemui Rasulullah SAW di rumah beliau, namun yang lain mencegah sebab mereka yakin bahwa Rasulullah SAW akan hadir. Maka merekapun menunggu Rasulullah SAW sembari membaca Al-Qur’an.

Tak lama kemudian Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan memerintahkan salah seorang sahabat untuk membaca iqamat. Kemudian beliau menjadi imam dan mempercepat shalatnya. Seusai salam, beliau membaca doa dengan suara keras. Suaranya yang jernih penuh wibawa menggetarkan para jama’ah lalu beliau bersabda, “Tetaplah kalian pada shaf masing-masing”.

Rasulullah SAW lalu mengahadap ke arah jama’ah dengan pandangan yang sejuk. Wajahnya yang putih bersinar menandakan suasana hati yang sedang gembira. Mata beliau yang indah dan tajam menatap jama’ah satu per satu. Para jama’ah tertunduk tidak berani menatap wajah Rasulullah SAW yang agung.

Sejurus kemudian beliau bersabda, “Aku akan memberi tahu kalian apa yang menyebabkan aku terlambat datang. Semalam aku bangun mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat. Dalam shalatku aku tertidur karena kantuk yang amat berat. Ternyata aku bermimpi bersama الله SWT dalam Rupa yang sangat gemilang”.

Setelah diam sejurus, beliau meneruskan sabdanya, “DIA berfirman, ‘”Wahai Muhammad”. Aku menjawab, ;’Labbaika Yaa Rabb”.

”Mengapa para malaikat berselisih ?”

“Hamba tidak tahu”.

Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya, “الله SWT bertanya sampai tiga kali, kulihat DIA meletakkan telapak TanganNYA di atas bahuku, hingga dapat kurasakan dingin Jari-Jari NYA di dadaku. Segala sesuatu nampak jelas di depanku, dan aku mengetahuinya. Lalu DIA berfirman lagi, “’Wahai Muhammad”’.

“Labbaika Yaa Rabb”.

“Tentang apa para malaikat berselisih ?”

Tentang penebus-penebus dosa”.

“Apa penebus-penebus dosa itu ?”

“Langkah menuju kebaikan, duduk di masjid setelah shalat, mengguyurkan air wudhu pada saat-saat tidak disukai”.

“Tentang apa mereka berselisih ?”

“Tentang memberi makan, ucapan yang lemah lembut, shalat malam ketika manusia tertidur nyenyak”.

“Mintalah !”

“Yaa الله sesungguhnya aku mohon kepadaMU taufik untuk mengerjakan hal-hal yang baik, meninggalkan yang munkar, mencintai orang-orang miskin dan agar ENGKAU mengampuniku dan merahmatiku jika ENGKAU hendak menimpakan cobaan”.

Setelah itu RAsulullah SAW membaca sebuah doa pendek yang semalam dipanjatkan kepada الله SWT, “ALLAHUMMA INNY AS-ALUKA HUBBAKA WA HUBBA MAN YUHIBBUKA WA KULLA AMALIN YUQARRIBUNY ILAA HUBBIKA”. (Yaa الله aku mohon kepadaMU kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMU , serta kecintaan kepada amal yang mendekatkan kepada kecintaan kepadaMU )
Kemudian dengan suara yang sangat pelan sementara mata beliau yang sangat mulia berkaca-kaca Rasulullah SAW mengakhiri sabdanya, “ini adalah pelajaran hakikat maka pelajarilah”.

Seri Belajar Membaca Risalatul Qusyairiyah ( 1 )

 

                                                  M.A.L.U

Allah berfirman :

Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya الله melihat segala perbuatannya (Al-‘Alaq 14)

Rasulullah SAW bersabda:

“Malu itu sebagian dari iman”.

Suatu hari RAsulullah SAW memberi pelajaran kepada para sahabat :

Malulah kalian pada الله dengan sebenar-benar malu”. 

Para sahabat menjawab, “Sesungguhnya kami telah merasa malu wahai Nabi Alloh. Kami bersyukur dapat berbuat demikian”. 

Beliau bersabda, “Bukan demikian ! akan tetapi orang yang malu pada الله yang sebenarnya adalah orang yang menjaga kepalanya dan apa yang terekam di dalamnya, menjaga perut dan apa yang dihimpunnya, dan ingatlah kalian pada kematian dan bahayanya. Barang siapa menghendaki kampung akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia. Barang siapa mampu mengerjakan demikian, maka sungguh dia telah malu kepada الله dengan sebenar-benar malu”.

Ibnu Atha’ mengatakan, “Ilmu terbesar adalah rasa segan dan malu. Jika segan dan malu telah hilang, maka tida ada kebaikan yang tersisa di dalamnya”.

Abu Utsman mengatakan, “Orang yang berbicara dengan suasana hati yang diliputi rasa malu, tetapi apa yang dibicarakannya tidak di dalam suasana rasa malu karena الله maka dia adalah orang yang menipu”.

Abu Sulaiman Ad-Darani menuturkan bahwa الله berfirman, “Hai Hamba-Ku sesungguhnya engkau tidak malu kepada-Ku padahal Aku telah menjadikan manusia lupa pada aib-aibmu, menjadikan bumi lupa pada dosa-dosamu, menghapus keteledoranmu dari kitab catatan induk dan tidak akan mendebat hasil hitungan (catatan amalmu) pada hari kiyamat”.

Allah memberi wahyu kepada Nabi Isa AS, “Nasihatilah dirimu, jika telah menasehati dirimu maka nasihatilah manusia. Jika tidak malulah kamu kepada-Ku untuk memberi nasihat kepada manusia”.

Malu karena perendahan sebagaimana Nabi Musa AS yang mengatakan, “Sesungguhnya saya butuh sedikit dunia yang membuat saya malu untuk meminta kepada-Mu wahai Tuhan”. الله pun menimpalinya, “Mintalah kepada-Ku hingga adonanmu tergarami dan kambingmu diberi makan”.

Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Ada lima tanda kesengsaraan yaitu hati yang keras, mata yang beku, sedikit malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan”. Dalam sebagian kitab disebutkan, “tidak ada seorang hambapun yang mencapai separuh hak-Ku. Dia berdoa kepada-Ku dan Saya malu menolaknya. Di bermaksiyat kepada-Ku tetapi tidak malu kepada-Ku”.

Yahya bin Muadz mengatakan, “Barang siapa malu kepada الله dalam keadaan ta’at, maka الله akan malu kepadanya ketika dia melakukan dosa”. Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya malu mengharuskan pencarian”.. dikatakan pula, malu adalah pengerutan hati untuk pengagungan Tuhan. Dikatakan, jika seseorang duduk untuk memberikan peringatan kepada manusia, maka dua malaikat memangggilnya seraya berkata, “Nasihatilah dirimu dengan apa-apa yang kamu nasihatkan kepada kawanmu. Jiak tidak, maka malulah kepada Tuhanmu Yang selalu melihatmu.

Al-Junaid ditanya tentang malu, lalu dijawab,” Memandang buruk dan kurang  terhadap perbuatan baikmu. Diantara dua perbuatan itu akan lahir suatu kondisi yang dinamakan malu”

Muhammad Al Washiti berkata, “Tidak akan merasakan kelezatan malu seseorang yang merobek ketentuan hukum atau melanggar janji”.

 

 

Diambil dari Kitab  "Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf"

oleh Imam al Qusyairy an Naisabury

Permata Cimahi, 9 January 2011